Feeds:
Tulisan
Komentar

Jika kuterduduk sendiri

[English]
Jika Kuterduduk Sendiri
Sebuah puisi oleh Rumi

man pray - verticalAku tahu bahwa Tuhan akan memberikan roti harianku. Tak ada gunanya berlari-lari dan bercapai lelah untuknya. Sesungguhnya, ketika aku menyisihkan ideku tentang uang, makanan, pakaian, hasrat pemuasan fisik, segalanya mulai menghampiriku secara alamiah.

Ketika aku bergegas mengejar apa yang kupikir kuinginkan, hari-hariku diwarnai oleh kekhawatiran dan kegelisahan; jika aku terduduk sendiri dengan sabar, apa yang kubutuhkan mengalir padaku, tanpa rasa sakit.

Darinya, aku mengerti bahwa apa yang kuinginkan juga menginginkanku, ia melihat dan menarikku, ketika ia tidak dapat lagi menarikku ke arahnya, ia harus datang padaku. Ada rahasia besar di dalam ini bagi mereka yang mengerti.

Apa yang akan kukatakan padamu adalah: sibukkanlah dirimu dengan permasalahan dunia sana dan segala sesuatu di dunia ini akan mengejarmu. Ketika aku berkata, “jika aku terduduk di tempat kesendirianku dengan sabar,” yang kumaksud “terduduk” adalah duduk sebagaimana dengan permasalahan akhirat.

Jika kau tersibukkan dengan akhirat pada kenyataannya kau berlari; jika kau menyibukkan diri dengan dunia maka sebetulnya kau terdiam tanpa melakukan apa-apa. Bukankah Rasulullah (saw) berkata: “Rangkumlah semua keinginanmu menjadi satu dan Tuhan akan mengatur semua keinginanmu yang lain?”

Katakanlah ada 10 permasalahan yang mengganggumu; pilihlah satu tentang akhirat, dan Tuhan akan membereskan 9 permasalahan lainnya tanpa ada kebutuhan darimu untuk melakukan apa pun. Ada rahasia besar di sini bagi mereka yang dapat memahaminya.

Senja itu, saya duduk dan mendengarkan seorang teman membacakan puisi di atas. Saya terseguk bahkan sejak paragraf pertama dibacakan. Puisi ini menohok tepat di tengah jantung saya. Bertutur tentang siapa saya. Apa saya. Rasa pun tertumpah ruah.

Mungkin kau tak tahu, saya telah berlari sepanjang hidup. Setiap orang punya stimulannya masing-masing. Stimulan saya adalah untuk senantiasa berlari di gigi lima: bekerja, berkegiatan aktif, dan bersosialisasi.

Saya terus berlari karena saya ingin membenarkan segala yang salah. Saya tak mempercayai siapa pun, tidak juga Tuhan, untuk membereskan segalanya buat saya. Saya harus melakukannya sendiri dengan kedua tangan mungil saya ini.

Saya jadi bertanya-tanya, walau saya selalu mengucap bahwa saya percaya pada Tuhan, apakah saya benar-benar percaya pada Tuhan? Ketika saya berkata saya memiliki keyakinan, apakah benar-benar yakin?

Saya terus berlari karena saya ingin menciptakan suatu kesempurnaan di tengah kekacauan apa yang disebut dengan hidup ini. Saya terus berlari karena hal ini membuat saya merasa hidup dan berarti. Saya menjadi seseorang ketika saya berlari.

Saya takut untuk berhenti. Jika saya berhenti, saya akan berhenti hidup pula. Keseseorangan ini akan mengelupas menjadi bukan apa-apa. Saya akan menyadari kekosongan, ketiadaan dan menegaskan perasaan yang selama ini telah mengada: saya bukanlah orang yang diinginkan oleh siapa-siapa.

Bisa membayangkan betapa melelahkannya menjalani hal ini? Mungkin tidak.

Jadi saya pun berlari. Saya berlari hingga saya tak dapat berlari lagi, hingga saya tidak memiliki tenaga lagi, baik secara fisik maupun emosi, untuk bergerak. Kemudian saya merasa dipaksa untuk berhenti. Saya tak memiliki pilihan kecuali menurut: saya pun berhenti. Bukan main pedihnya saat berhenti itu. Segala rasa yang terpendam jauh dalam jiwa pun mengemuka liar.

Pada saat yang sama, saya pun mulai mengenal-Mu. Segala kelelahan, kemarahan, ketidak percayaan diri, dan rasa sakit adalah Kau yang memanggil-manggil saya. Juga saya yang demikian merindukan-Mu. Perlahan langkah terpaksa untuk berhenti atau memperlambat langkah ini pun berubah menjadi tindak suka rela, atau bisakah saya katakana, suatu tindak atas nama Cinta.

Kemudian puisi ini dibacakan kepada saya. Mungkin puisi ini menggiring kembali semua memori beserta airmata dan rasa sakit ke permukaan hati. Rasa ini masih sedemikian kuat.

Bahkan saya kembali menangis ketika menulis posting ini. Ini adalah Kau yang kembali menyapa saya, seperti yang senantiasa Kaulakukan. Terima kasih karena Kau tak pernah menyerah dan membiarkan saya sendiri.

Puisi ini merupakan pengingat yang demikian lembut dan penuh kasih buat saya: Saya akan terduduk di tempat saya sendiri. Dan biarlah Kau yang menapaki sisa langkah saya.

Senantiasa menjadi pecinta

Sebuah catatan dari acara Ramadhan bersama Rumi
Tanggal: 2 September 2009
Pembicara: Achmad Chodjim

Kenapa Harus Berdusta

Dijadikan indah bagi manusia
kecintaan terhadap apa yang diingini – wanita-wanita…
Tuhan telah menjadikan daya tarik padanya
mana mungkin laki-laki lari darinya?
Dia menciptakan Hawa agar Adam tertarik padanya
mana mungkin Adam lari darinya?
Cinta dan kebaikan adalah sifat-sifat manusia
amarah dan nafsu milik satwa
Wanita adalah pancaran Sang Iswara
dia bukanlah kekasih Anda
Dialah Sang Pencipta!
kau dapat berkata: dia tidak dicipta

Rumi

Diawali dengan kutipan dari QS 3:14, puisi di atas bertutur tentang kehadiran kita di muka bumi ini.

QS Ali Imran (3):14 – Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik.

Sosok manusia senantiasa dihiasi oleh berbagai rupa keinginan, dengan puncaknya nafsu syahwat terhadap lawan jenis. Hal ini wajar karena manusia lahir sebagai wujud sejati cinta dari Allah. Sehingga daya tarik cinta merupakan hal yang natural dengan fokus pada wanita sebagai puncak kecintaan.

Al A’raaf (7): 189 – Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan dan teruslah dia merasa ringan. Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika kau memberi kami anak yang sempurna tentulah kami ermasuk orang-orang yang bersyukur.”

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dari diri yang satu. Menurut, Rumi, manusia yang pertama hadir di bumi adalah perempuan.

Cinta dan kebaikan merupakan sifat dasar manusia, sementara amarah dan nafsu merupakan sifat satwa. Manusia seyogyanya sudah meninggalkan amarah dan nafsu.

Cinta, kebaikan dan kelembutan ini nyata sekali dalam diri perempuan sebagai manifestasi dari Tuhan.

Sifat kelembutan yang sangat menonjol pada Tuhan merupakan sifat perempuan/feminin. Bahkan bisa dikatakan bahwa secara pokok, sifat Tuhan adalah feminin. Ini tampak dalam nama-nama dalam Asmaul Husna.

Misalnya saja dalam nama Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim yang memiliki rasa feminin. Melalui Kasih Sayang ini Tuhan memelihara bumi dan seisinya. Bila sifat-sifat maskulin yang didahulukan, dunia bisa hancur. Misalnya bila ada sesuatu yang salah, jika sifat maskulin pada Tuhan akan ‘marah’ dan menghancurkan sesuatu tersebu.

(Jadi ingat dalam Al Qur’an [Q. 6:12, 54] yang menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah telah menetapkan pada Diri-Nya rahmat alias kasih-sayang, dan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa kasih-sayang-Nya mendahului kemarahan-Nya).

Bagaimana syarat perwujudan cinta dan kebaikan ini?

Selama engkau terjerat
oleh pikiran ada dan tiada
bagaimana kau dapat tapakkan kaki di jalan ini

Kosongkan dirimu sehingga
ada Kehendak-Nya semata
Sepanjang kau terjajah diri
mana mungkin kaucapai yang Hakiki

Bila tak tersucikan dalam rendah hati dan fana
bagaimana ‘kan mencapai
ilmu tertinggi dari Yang Maha Tinggi?

Fariduddin Atthar

Cinta dapat terwujud sebagai sifat alamiah manusia. Tentunya kita berbicara tentang Cinta sejati, bukan cinta palsu yang merupakan wujud emosi sebuah ego. Bukan pula cinta terhadap faktor eksternal yang meliputi diri, sebuah cinta yang terselubungi oleh topeng dan kepentingan.

Selama manusia terjebak dengan dunia, manusia tak akan dapat hidup dengan damai dan sejahtera. Manusia tak dapat menemukan dirinya yang hakiki, dirinya sebagai manifestasi Cinta yang Agung.

Kata mahabbah berakar pada kata yang berarti benih. Seyogyanya kita dapat mewujudkan hakikat Cinta ini seperti benih yang bertumbuh.

Dalam situasi seperti ini, ruh pun berada dalam kondisi yang kondusif. Manusia pun akan mencinta tanpa memandang siapa yang ada di sekelilingnya. Kesadaran akan Cinta akan membiarkan benih bertumbuh secara berkelanjutan hingga menghasilkan benih-benih yang lain.

Cinta sejati seperti ini akan tumbuh bila pikiran dan hati telah kosong dari kemelekatan terhadap isi dunia. Pikiran dan hati kosong dari kemelekatan terhadap isi dunia.

Kerlap-kerlip di angkasa
Tampak ada
Nyatanya ilusi semata

Kiranya kau telah terpesona
pada sesuatu yang fana
Fana ada bila hancur Thursina

Bila ingin dapat yang Hakiki
Kosongkan pikiran dan hati
Bersihkan dari kelekatan dunia ini
Pasti kita alami bahagia sejati.

Achmad Chodjim

Kefanaan sebenarnya merupakan wadah dari cinta. Hidup yang fana berarti hidup di mana tak ada yang lebih besar dari cinta. Fana ini akan terwujud bila sudah tak ada lagi thursina, segala yang melekat pada diri. Kemelekatan hanya akan meningkatkan emosi dan menjadikan hidup hampa. Merugilah kita jika ini yang terjadi.

Karena itu, marilah kita lepaskan segala kemelekatan ini dan tumbuhkan kesadaran. Ada tiga langkah yang dapat kita lakukan untuk melepaskan kemelekatan dan menumbuhkan kesadaran:
1. Berdzikir. Sesuai dengan ayat Al Qur’an: Ingatlah, hanay dengan berdzikir kepada Allah-lah hati akan menjadi tenang. Sebagai mana air yang tak bergejolak.
2. Berpikir jernih. Dengan hati yang tenang, pelan-pelan pikiran pun menjadi jernih, sistematis dan logis.
3. Tafakkur. Berkontemplasi sebagai wujud upaya eksternal manusia untuk mencari, memaknai dan memahami kebesaran Tuhan. Saat kita memandang langit dan bumi, kita menyadari bahwa hakikat kita adalah kecil, sementara yang besar adalah Tuhan semata.

Tentunya semua ini membutuhkan pengorbanan. Tak ada rasa cinta yang tumbuh tanpa adanya pengorbanan. Bertanyalah setiap saat, apakah saya telah berkorban atau masih menjadi korban?

Selamat Idul Fitri 1430H

[English]
Idul Fitri 1430H

Tak kutemukan sebongkah pun kata
Lantas kutundukkan kepala
Kupejamkan mata
Kucoba rasakan hati
Dan kupeluk diri-Mu
Sedemikian erat
Dalam heningnya imajinasi
Mungkin dengan begini
Ku akan mulai memahami

Merayakan Jiwa yang teramat suci
Selamat idul fitri 1430H
Taqabbal allahu minna wa minkum

[English]
Artikel yang kutulis di Femina tentang perjalananku ke Skotlandia.

Femina - Melihat Diri Sendiri Di Skotlandia (1 of 2)

Femina - Melihat Diri Sendiri Di Skotlandia (2 of 2)

“MELIHAT’ DIRI SENDIRI DI SKOTLANDIA

Mengasyikkan bila kaki ini sudah bisa diajak melangkah kemana pun hati berbisik.

GAYA MELANGKAH SEPERTI INI yang menuntun saya, Eva Muchtar, berjalan. Tahun lalu, ketika saya yang terbiasa dengan kehidupan kota besar Jakarta dengan segala hiruk pikuk, saya ‘harus’ menghabiskan 6 bulan di lokasi terpencil dan tenang di Skotlandia. Di sana, saya mengikuti pendidikan di Beshara School of Esoteric Education. Sekolah ini membahas tentang siapa kita, potensi kita dan untuk apa kita hadir di dunia.

Saya pertama mengenal Beshara ketika saya diajak teman mengikuti kursus akhir pekan di Jakarta. Di penghujung kursus, saya ngobrol dengan supervisor dari Beshara. Saya menyatakan minat untuk mengikuti kursus, namun ada hambatan dana. Ia menyarankan saya mengirim surat kepada kepala sekolahnya.

Saran itu menempel di kepala saya. Sepuluh hari setelah mengirim surel, saya mendapatkan balasan: ‘OK!’

Ha? OK? Hidup memang penuh kejutan.

TAK PUNYA HARI LIBUR

Skotlandia sebenarnya tidaklah terlalu asing buat saya. Sekitar 11 tahun lalu saya pernah mengenyam pendidikan di sana, tepatnya di kota Stirling. Kini saya kembali ke tanah yang demikian damai dan memberikan kesan begitu kuat dalam hati saya ini. Seperti pulang kampung. Senang sekali!

Edinburgh tetap menyambut saya dengan gaya khasnya: awan kelabu menggantung dan hujan rintik-rintik. Tak mengapa. Hujan itu malah menambah keindahan pemandangan yang terhampar.

Buat saya, seperti mimpi bisa kembali menjejakkan kaki di negeri ini. Saya bergerak perlahan mendekati sekolah saya, sekitar 20 menit perjalanan ke luar kota.

Saya lalu diajak berkeliling area rumah dan perkebunan The Chisholme House. Serasa hidup di masa-masa klasik karena keaslian ruangan-ruangan itu dan keasrian alam dipelihara secara serius. Kamar saya sendiri terdiri dari empat tempat tidur, berdinding putih dan aksen kayu pada kusen-kusen jendela. Kamar itu sudah tertata rapi dan bersih, lengkap dengan bunga segar di atas meja di tengah kamar, serta sepiring buah segar sebagai sambutan selamat datang yang hangat.

Keesokan hari, kursus saya dimulai. Program yang saya ikuti di Beshara ini berupa retreat yang berlangsung tanpa jeda dengan kegiatan harian yang cukup intensif. Tahun itu, satu kelas (dan hanya ada satu kelas intensif enam bulan) terdiri dari delapan orang, didampingi dua supervisor yang telah belasan tahun bersama Beshara.

Hari-hari saya dipenuhi dengan rutinitas cukup ketat dan luar biasa konsisten.  Hari-hari tersebut terbagi dua tipe: hari belajar dan hari kerja. Dua hari belajar, dua hari kerja, dua hari belajar, begitu seterusnya. Hal ini berlangsung terus, tanpa hari libur ataupun istirahat.

Suatu kali saya mengomentari tentang betapa intensifnya program ini. Teman saya bilang, “Kan sudah diperingatkan sebelumnya. Perhatikan nama kursusnya: Intensive six month course.”  Program ini sendiri terdiri dari 4 aspek: belajar, kerja, meditasi dan devotional practice. Semua aspek saling mendukung dalam membantu para murid menelusuri diri dan mengembangkan potensi sesungguhnya. Hmm… kedengarannya berat sekali, ya?

Begini kira-kira urutan kegiatan di hari belajar saya: Bangun tidur, mandi, meditasi, sarapan, belajar, rehat kopi, belajar, meditasi, makan siang, kerja, rehat teh, belajar, meditasi, kerja, malam malam, mandi, dan diakhiri oleh kegiatan meditasi dinamis. Hari dimulai sekitar pukul 6 pagi dan berakhir kira-kira pukul 22.30. Pada hari kerja, jadwal kurang lebih sama, namun waktu-waktu studi diisi dengan bekerja.

Belajar dilakukan secara berkelompok. Kami membaca teks klasik terkait dengan apa makna menjadi manusia, termasuk karya Muhyiddin Ibn ‘Arabi, buku  Tao Te Ching, Baghavad Gita, serta puisi-puisi Rumi. Penekanan sesi belajar adalah memberi kesempatan bagi kami untuk bertanya dan menilik ke dalam diri, untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh teks-teks ini.

Berbagai pertanyaan dan rasa yang timbul diungkap dan didiskusikan bersama. Tak ada pertanyaan yang dianggap bodoh. Semua pertanyaan  valid dan perlu ditelaah sebagai suatu pertanyaan bersama.

Aspek meditasi dan devotional practice tak terpisahkan. Aspek ini membantu kita mengadakan perjalanan ke dalam diri, menumbuhkan sentimen atau cita rasa untuk mengukuhkan pengetahuan diri ini.

Sementara, untuk aspek kerja, jangan dibayangkan kerja kantoran seperti yang dilakukan oleh para profesional Jakarta. Kerja di sini adalah kerja sehari-sehari di rumah, seperti memasak di dapur (termasuk membuat roti dan yoghurt), berkebun, membereskan kamar, membersihkan kandang ayam, membuat parit dan membangun pondok kayu baru. Wah, kapan lagi saya melakukan hal-hal ini!

KERJA PUN DIMAKNAI

Saya benar-benar menikmati saat-saat bekerja, apa pun tugas yang diserahkan kepada saya. Saya adalah pemula dalam hal mengurus rumah, dapur dan kebun. Jadi, setiap tugas adalah hal baru dan kesempatan belajar. Menarik, karena keadaan ini membuat saya menjadi orang yang sangat terbuka dan menurut. Ketika diresapi, tugas-tugas ini bisa membuka pikiran saya untuk belajar hal-hal yang tak pernah saya kira bisa pelajari melalui hal-hal sepele.

Suatu kali saya ditugaskan membuat api unggun. Saat itu angin bertiup dengan kencang. Asap dari api unggun seolah mengikuti kemana pun saya bergerak. Hingga kemudian, saya menyadari, saya perlu memperhatikan ke mana arah angin bergerak dan saya harus bergerak ke arah seballiknya, agar terhindar dari terpaan asap. Bergeraklah sesuai dengan arah angin.

Saat saya tengah berada di kebun, saya memperhatikan daun berjatuhan. Kita mungkin berpikir itulah akhir hidup sang daun. Ternyata tidak. Daun-daun kering dikumpulkan, ditumpuk kemudian dipendam selama dua tahun dan berubah menjadi pupuk. Pupuk ini pun kembali dipakai di kebun yang sama untuk menyuburkan generasi tumbuhan mendatang.

Saya kerap ditugaskan untuk memperbaiki perlengkapan keramik (piring, cangkir, hingga jambangan bunga). Suatu latihan konsentrasi, kesabaran dan ketelatenan yang sangat menyenangkan. Saya bisa asyik melakukannya satu jam lebih.

Saat-saat menyiapkan meja makan adalah saat paling menarik untuk dicermati. Meja makan selalu disiapkan bersama. Tak ada pembagian kerja secara eksplisit. Namun, semua seperti mengalir. Siapa yang menaruh piring dan sendok, memotong roti, menyiapkan buah, menghidangkan makanan, semua berjalan tanpa ada komando dari seorang pun. Tiap orang melakukan hal yang belum dilakukan orang lain, mengisi kekosongan. Satu gerakan tunggal yang mengalir alami.

Lucunya, ada satu pekerjaan yang sering kali dipilih orang, termasuk saya, bila sedang kesal dan ingin sendiri: mencuci perlengkapan masak, seperti panci-panci besar, di dapur. Mungkin panci-panci yang berat dan sering kali ada gosongnya itu, membantu kami menyalurkan emosi. Pokoknya, kalau saya sudah ambil posisi di situ dan saya tidak terlalu banyak bicara [sic].

PERJALANAN KE DALAM DIRI

Dari kesemuanya, yang paling menarik bagi saya adalah perjalanan di dalam diri. Mengamati emosi saya yang naik-turun dan pikiran saya yang gemar mengembara ke sana kemari. Sebuah tantangan terbesar bagi saya untuk bisa memahami dan menerima diri apa adanya.

Suatu hari di awal tahun, saya sedang membantu pembuatan parit. Kala itu salju cukup tebal. Saya menjejakkan kaki ke dalam parit dan terpeleset. Lutut kanan saya terkilir. Saya dibawa ke rumah sakit dan kaki saya pun dibalut agar tak bergerak. Saya yang aktif harus menggunakan kruk selama satu bulan lebih dan mengakui keterbatasan saya ini.

Saya berusaha positif. Saya memandangnya sebagai saran agar berhenti sejenak dan membiasakan diri untuk menerima uluran tangan orang lain. Hingga supervisor saya bilang: “Kamu terlalu positif.” Waduh!

Saat itu dia mengingatkan, manusia itu tak diharapkan selalu positif. Manusia diharapkan bisa jujur terhadap dan tentang dirinya. Manusia hendaknya bisa menerima dan menyayangi diri apa adanya, dalam keadaan apa pun. “Seperti halnya Tuhan telah menerima dan menyayangi kamu apa adanya,” ujarnya. Air mata saya langsung meleleh….

Menariknya lagi, sekolah saya menghargai keunikan proses atau perjalanan masing-masing individu.Walau kami merupakan satu kelompok, sebenarnya kami berjalan sendiri-sendiri dengan pengalaman (terutama pengalaman batin) yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ada kalanya, saya merasa sedih, merasa marah, ingin menangis. Maka, rasa itu dihormati. Saya pun diberikan sedikit ruang, sedikit jarak, untuk bersama dengan diri ini. Saat sendiri itu, jawaban atau penjelasan dari mana rasa ini berasal, seringkali muncul dalam benak. Supervisor saya berkata, “Pertanyaannya adalah, apakah kamu sudah menghargai rasa dalam dirimu sendiri dan memberinya kesempatan untuk berekspresi?” Yah, saya menangis lagi, deh.

Perjalanan individual ini lebih terasa lagi ketika suatu hari sekolah saya mengadakan silent day. Selama 24 jam, kami diam, tak berbicara satu dengan yang lain, dan lebih melihat ke dalam diri. Hari itu saya menyadari betapa pribadinya hubungan manusia dengan Tuhan. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghadap Tuhan dan menjalankan peran di dunia ini sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Hari itu pula saya menyadari betapa saya telah jatuh cinta kepada Tuhan.

Waktu terasa berjalan demikian cepat. Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Tanpa terasa, enam bulan sudah hampir berlalu. Di hari-hari terakhir, seorang murid lama Beshara bertanya, “Apa yang akan berubah sekembalinya saya dari kursus ini?” Saya terenyak sejenak. Saya lalu bercerita ada satu tema yang terus muncul di benak saya dalam sebulan terakhir: tetapkan pandanganmu kepada-Nya dan heninglah.

Tetapkan pandangan. Kala itu, saya menyadari makna lain dari kata-kata “lillaahi ta’ala”, untuk ‘mengizinkan’ Tuhan atau kekuatan maha ini mengatur serta menuntun langkah kita.

Malam terakhir, ada acara makan malam untuk merayakan selesainya kursus. Murid-murid Beshara, lama ataupun baru, berkumpul berbagi kebahagiaan. Terharu sekali melihat betapa para murid lama begitu bangga dan senang melihat kami berhasil. Makanan istimewa pun digelar.

Satu per satu para murid pergi. Yang tadinya berupa satu kelompok yang 24 jam bersama selama enam bulan penuh, kemudian berpisah ‘begitu saja’. Berbagai ragam rasa berkecamuk. Senang karena sebentar lagi saya akan bertemu dengan keluarga dan teman-teman, sedih karena saya merasa meninggalkan sesuatu yang demikian indah.

Saya teringat terakhir kali menapaki dan duduk merenung sendiri di bukit di depan sekolah. Saat itu saya bertanya, entah pada siapa yang mendengar: sekarang saya harus bagaimana? Apalagi yang harus saya lakukan? Jawaban yang menyelinap di kalbu saya: menyelamlah lebih dalam. Terbang lebih tinggi. Dan mencintalah. Love. Just Love. Saat itu saya tersenyum sekaligus meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Pelajaran lama yang abadi.

KOTAK

NAIK APA KE SANA

The Chisholme House, kampus Beshara di Skotlandia, terletak di perbatasan Skotlandia dan Inggris, 15 menit dari kota terdekat, Hawick.

Bandara terdekat Edinburgh, Skotlandia. Dari bandara, naik Airlink shuttle bus ke pusat kota, berhenti di Waverley Train Station.

Dengan bus pun bisa. Dari depan Waverley Station, berjalan (kurang lebih 15 menit) ke Saint Andrews Bus Station. Naik bus no 95 atau X95 jurusan Carlisle. Turun di Morrisons Supermarket, Mart Street, Hawick.

Lanjutkan dengan taksi dari Hawick ke The Chisholme House (kurang lebih 10 pounds) atau telepon Chisholme untuk mengatur penjemputan.

Bisa juga menghubungi The Chisholme House untuk mengatur penjemputan langsung dari bandara ke kampus Beshara.

Silakan kunjungi www.beshara.org.

-oOo-

Bullying pun cerminan kerinduan

Catatan singkat dari sharing Diena Haryana, aktivis Anti-Bullying, memaknai puisi Maulana Jalal Al-Din Rumi yang berjudul “The Heart” dalam acara Ramadhan With Rumi tanggal 03 September 2009 di Dharmawangsa Square

THE HEART

There is a window between heart and heart:
They are never separate like two bodies.
Two lamps may not be united in their form—
But their light merges into each other.
No lover ever search for Union
If his Beloved is not also seeking him.

The love of lovers makes them thin;
The Beloved’s love makes them full and shining.
When the lightning of love for the Beloved
Falls from heaven and strikes this heart—
Know that love is also firing that heart,
And when the love for Him brims over in your heart,
Know that love for you is also brimming in His.

Can the sound of clapping come only from one hand?
When a thirsty man moans, “O water, o delicious water!”
This thirst that is in all our souls
Is the Water drawing us always to it.
We belong to It, and it belongs to us.

*Andrew Harvey, Light Upon Light: Inspirations from Rumi, p. 51

HATI

Ada jendela di antara hati:
Mereka tak terpisah bagai dua tubuh.
Dua lampu takkan bersatu dalam wujud—
Namun cahaya mereka berkelindan.
Tiada pecinta yang mencari Penyatuan
Tanpa Sang Tercinta yang juga turut mencarinya.

Cinta dari pecinta membuat mereka tirus;
Cinta dari Sang Tercinta membuat mereka penuh dan bersinar.
Ketika serpihan kilat dari Sang Tercinta
Jatuh dan menghujam hati ini –
Yakinlah bahwa ia juga membakar hati itu –
Dan ketika cinta untuk-Nya meluap dalam hatimu,
Ketahuilah bahwa cinta untukmu juga meluap di hati-Nya.

Adakah suara tepukan satu tangan?
Ketika seoran gyang tengah haus melenguh: “Air, air yang nikmat!”
Kehausan ini adalah kehausan dari seluruh jiwa kita
Sang Air selalu mengarahkan kita kepada-Nya.
Kita berasal dari-Nya dan Ia-lah kita.

Diena mengungkapkan perasaannya, betapa sedihnya ia akhir-akhir ini dengan terjadinya kekerasan/ bullying di sekolah-sekolah. Pendidik yang aktif sebagai ketua Yayasan Sejiwa Amini ini berbagi pandangan.

Sesungguhnya, kekerasan tidak perlu terjadi bila setiap orang mengenal dirinya yang secara fitrah sebagai manusia memiliki cinta. Namun sering manusia lupa dengan Tuhan Sang Sumber Cinta, padahal manusia berasal dari-Nya, dan karena itulah ia tak mampu menebarkan cinta kepada sesama.

Lebih lanjut, Diena menyarankan agar kita hendaknya tidak putus menghubungkan diri kita dengan-Nya. Sehingga kita senantiasa memiliki energi yang besar untuk berbagi dengan sesama.

“Persembahan Bagi Pecinta”

Cinta adalah sebab manusia dan seluruh alam semesta ini diciptakan,
Tuhan Sang Maha Sumber Cinta, Dialah Pencinta Abadi
Tak kan lekang waktu merindu, akan penyatuan dengan
yang dicintainya untuk menikmati diri-Nya.
Oh…tak mungkin diri ini berpisah dari-Mu, kekasihku…
Aku tak kuasa menahan dahaga.

Air…air…air…
Kemanakah kau…kemarilah…
Bawalah aku kepada nikmat-Nya.

Sungguh panjang perjalanan ini
Namun tak kunjung tampak diri-Mu
Mungkin aku lupa dengan diriku…siapa diriku…
Oh…lagi-lagi kau ego selalu saja di situ berdiri tak bergeming.

Air…air…air…
Bawalah aku menemui kekasihku…
Mari kemari, aku di sini merindu…

Kekasihku, diriku diri-Mu saling memiliki,
Tak mungkin diriku bercinta tanpa diri-Mu,
Diriku diri-Mu…satu…abadi…

Catatan di atas saya terima atas kebaikan hati Mbak Anggraeni Dewi. Hari itu, saya berkesempatan untuk berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Sepanjang pembicaraan, saya tak dapat melepas pikiran saya tentang pemaknaan saya terhadap puisi ini.

Menurut saya, cocok sekali Mbak Diena berbicara dalam diskusi “menjaga hati melalui cinta antar sesama”.Beliau telah menerapkan ini dalam kesehariannya. Hati beliau telah terjaga melalui kecintaannya kepada para korban bullying.

Cinta (dengan kapital “C”) tak akan pernah redup dari dunia, karena Tuhan sendiri adalah Cinta dan semua yang tercipta dalam dunia ini sebagai manifestasi-Nya adalah tak lain merupakan cinta pula.

Keterpisahan kita atau ketidaksadaran kita akan diri sejati kita kerap terwujud dalam bentuk kerinduan dan kehausan. Dalam bentuk yang tak terlalu jelas, keterpisahan dan rasa haus ini terwujud dalam bentuk pelaku bullying dan korban bullying.

Kehausan ini tertanggapi dengan kehadiran orang-orang seperti Mbak Diena yang jelas-jelas merupakan manifestasi Cinta, uluran tangan kepada para korban agar mereka merasakan cinta, uluran tangan kepada para pelaku sebagai penuntun bagi mereka untuk dapat mengekspresikan kehausan ini secara lebih konstruktif.

Proses pendidikan seperti ini selalu berlangsung dua arah. Saya yakin kesempatan berbuat bagi para korban bullying ini pun merupakan proses pendidikan buat Mbak Diena. Kesempatan ini juga merupakan kesempatan buat Mbak Diena untuk terus memoles hatinya, sehingga suatu saat nanti benar-benar menjadi cermin cemerlang yang dapat merefleksikan sifat-sifat Allah dalam kapasitasnya sebagai manusia.

Menarik pula buat saya bahwa ada salah satu peserta yang mempertanyakan definisi bullying. Dia mengatakan kalau definisi bullying yang terlalu luas, maka tiap-tiap dari kita adalah pelaku bullying. “Ketika orang tua menghardik anaknya ‘atas nama cinta’, masa’ itu dibilang bullying juga?” ujarnya. Saat itu saya sekedar tersenyum, tak sanggup mengatakan apa-apa. Bagaimana menurut Anda?

Saya berkaca ke diri sendiri. Berapa banyak kata-kata yang dianggap sepintas lalu oleh orang telah meninggalkan luka yang permanen dalam diri saya. Dan saya yakin, astaghfirullah, demikian pula sebaliknya.

Namun kembali lagi. Semua ini adalah pendidikan dari-Nya. Bahkan luka itu adalah satu lagi bentuk sapaan Cinta-Nya untuk semakin menimbulkan kerinduan saya kepada-Nya. Semoga saya dan Anda termasuk orang-orang yang senantiasa berdzikr kepada-Nya, karena hanya dengan berdizkr kepada-Nyalah hati kita akan merasa tenang.

Cinta sebagai pelaku tunggal

Ramadhan bersama RumiCatatan acara Ramadhan bersama Rumi, Hari ke-delapan

Topik: Cinta: Cinta sebagai Pelaku Tunggal

Pembicara: Bismantara Suryono

‘Love is the truth that binds us all together, through which we can learn to live and interact, knowing that we are loved by an inexhaustible Love that will not run out. We do not have to try to obtain it from others because it is there for us in our very being. We must learn to be connected constantly to the source. Love alone is effective; it is the only actor.’

Peter Young, (Principal, Beshara School), extract from:

The Spirit of the Millenium

MIAS Symposium, Chisholme 2000

“Cinta bukanlah tujuan, ia adalah penyebab.”

(Kabir Helminski – Living Presence).

Apakah cinta itu? Umat manusia telah berupaya agar dapat menjawab pertanyaan ini selama berabad-abad tanpa hasil. Mengapa? Karena setiap orang mempunyai definisi yang berbeda. Bagi sufi, cinta adalah esensi. Segala sesuatu mempunyai esensi dan esensi dari segala sesuatu adalah Cinta. Alasan lain mengapa Cinta begitu sulit didefinisikan adalah karena untuk menjelaskan sesuatu, kita memerlukan sesuatu yang lebih tinggi untuk menjelaskannya. Dan tidak ada yang lebih tinggi daripada Cinta.

“Aku adalah khazanah tersembunyi, dan Aku cinta untuk diketahui dan karenanya Aku ciptakan semesta sehingga Aku dikenali” (haditsh qudshi).

Cinta yang ada di dalam tiap diri kita, bukanlah milik kita. Ia adalah milik Sang Kuasa yang menciptakan seluruh semesta dalam Rahmat-Nya. Dalam terminologi sufi, semesta diciptakan dengan Nafs-Ar Rahman-Nya. Dia menciptakan semuanya oleh Cinta, dengan Cinta dan kesemuanya akan kembali kepada-Nya di dalam Cinta tersebut.

Karena Cinta adalah sesuatu yang esensial,maka ia menjadi sesuatu yang memungkinkan kita untuk hidup dan berinteraksi bersama. Ia memiliki kekuatan untuk menyatukan faksi-faksi yang berbeda dan melebur batas-batas imajinal seperti suku, agama, ras, budaya, wilayah, tempat, waktu dan lainnya.

Dan karena Cinta adalah sesuatu yang esensial ada dalam diri kita, maka ia hanya dapat dicari dan digapai secara internal. Selama kita mencari Cinta di luar diri kita, maka kita tak akan pernah mendapatkannya : melalui benda-benda yang kita punyai, melalui perhatian yang kita dapatkan dari orang lain, dari perasaan benar dan semua orang lainnya salah, melalui kesibukan yang kita lakukan terus menerus dan lain sebagainya.

Semua ini adalah bentuk penyangkalan atas Cinta dan keterikatan kita atas ego. Jika saja kita belajar untuk lebih menerima, lebih bersedia untuk dirubah oleh Cinta. Bagaimana? Secara aktif menerima, berserah diri dan pasrah kepada-Nya. Kebiasaan kita untuk terlalu berfokus kepada diri sendiri mengaburkan mata kita kepada Kenyataan bahwa ada Sesuatu yang lebih besar yang mengatur hidup kita. Dan Ia sungguh Maha Pengasih dan Penyayang.

Pertanyaannya adalah kalau Ia sungguh Maha Pengatur dan segalanya maka mengapa Ia membiarkan hal-hal yang tak menyenangkan terjadi pada kita? Karena dunia ini adalah panggung dualitas dimana segala hal berpasangan: sedih, gembira, suka dan duka, gelap dan terang dan sebagainya. Dan apa yang kita anggap penderitaan dan kesusahan adalah sesuatu yang mengarahkan kita kembali kepada Cinta-Nya. Betapa banyak kesempatan dimana kita berulang kali diingatkan bahwa kita adalah hamba (“Dan tidak kuciptakan jin dan manusia selain untuk menyembah-Ku”/Qur’an). Betapa sering kita berlari dari-Nya daripada kepada-Nya.

Cinta mempunyai wajah yang lain yaitu Kecemburuan/Divine Jealously. (Segala sesuatu Kuciptakan untukmu. Dan kau tercipta hanya untuk-Ku). Dalam Kecemburuan ini maka Cinta menjadi sesuatu yang membakar agar kita menjadi murni, sesuatu yang pantas untuk menjadi wadah kasih sayang-Nya. Bukankah karena Cinta, racun menjadi madu, perak menjadi emas, rasa sakit menghilang, yang mati menjadi hidup dan apa yang dahulu raja menjadi hamba?. Tapi tentu saja Cinta ini adalah buah dari pengetahuan (Rumi). Pengetahuan apa? Pengetahuan bahwa kita tak pernah terlepas dari Cinta ini dan karena Cinta ini sudah innate di dalam kita maka kita tidak “meminta” atau “mengambil”-nya dari orang lain. Disinilah dzikir atau kesadaran bahwa Ia selalu ada dimana-mana, di setiap waktu, melimpahi kita dengan Cinta (Rahmat) yang diluar jangkauan akal kita, menjadi begitu penting.

Terakhir, kita akan mendekat dan menjadi apa yang kita cintai. Jika kita benar-benar mencintai-Nya, maka kita akan menjadi refleksi dari Cinta-nya di dunia ini. Inilah sungguh suatu tantangan bagi kita. Bukankah kita tidak diciptakan selain untuk menjadi rahmat bagi keseluruhan? Karenanya tujuan hidup kita yang utama adalah bagaimana memanifestasikan, merefleksikan dan membagikan Cinta ini kepada segala hal di luar kita: alam, benda, orangtua, teman, keluarga dan lainnya secara kreatif sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Cinta adalah kekuatan pengubah terbesar dalam semesta.

Cukuplah bahwa Cinta juga menjadi pengubah terbesar dalam hidup kita.

Topik hari ini Rabu, 2 September 2009:

Cinta: Senantiasa Menjadi Pencinta.

Pembicara: Achmad Chodjim

Ramadhan bersama Rumi adalah kerjasama antara Life Begins @40! di

Dharmawangsa Square dengan Pusaka Hati dan Delta FM. Acara ini merupakan

rangkaian kegiatan diskusi, bazaar dan apresiasi terhadap Rumi serta arena

tukar buku terkait dengan bulan Ramadhan.

Diskusi Ramadhan mengangkat topik perspektif universal, pemahaman akan diri,

cinta & keindahan, dan amal ibadah sebagai pengejewantahan iman, dengan

puisi-puisi Rumi sebagai titik tolaknya. Acara ini diselenggarakan dari

tanggal 24 Agustus hingga 11 September, setiap hari Senin hingga Jumat, dari

jam 17.15 hingga Maghrib. Minum dan ta’jil disediakan oleh panitia.

Untuk informasi tentang kegiatan ini dan Life Begins @ 40 klik

http://www.lifeat40.com/lifeevents.asp

atau hubungi Puput/Jatmiko di +6221 7205066, 08179141607

Untuk informasi tentang Pusaka Hati, klik www.pusakahati.com

Untuk informasi tentang Beshara, klik www.beshara.org

Untuk informasi tentang Rumi, google “Rumi” ☺

Berendah-hatilah selalu

Ramadhan bersama RumiCatatan acara Ramadhan bersama Rumi, Hari ke-tujuh
Topik: Pengetahuan tentang diri: Kerendahan hati
Pembicara: Syamsiar Suryono

Jika semua tampak seperti apa adanya, mengapa Sang Rasul, yang telah dikaruniai mata batin yang bercahaya dan menembus dalam, berulangkali bermunajat : “Rabb (Tuhanku), tampakkan segala hal sebagaimana adanya. Kau tampakkan hal-hal itu seolah mereka indah walau sesungguhnya mereka buruk; Kau tampakkan hal yang terlihat buruk walau sesungguhnya didalam mereka tersembunyi keindahan nan tinggi. Perlihatkanlah pada kami, O Tuhanku, segalah hal sebagaimana adanya, sehingga kami dapat terhindar dari perangkap-Mu serta ketersesatan dalam kegelapan.”

Engkau dapat saja memiliki penilaian yang baik dan terasah, namun sebagaimanapun baiknya itu, tidaklah mungkin melebihi Sang Rasul. Ia terbiasa mengucapkan doa ini berulang-ulang kali. Karenanya, demi kebaikannya dan kebaikanmu, janganlah engkau mempercayai setiap ide dan konsep yang ada padamu. Selalulah berendah-hatilah, dalam kekaguman dan keberhati-hatian di hadapan-Nya (Tuhan).

Tulisan di atas menyarankan tiga hal dalam bersikap:
1) Untuk melihat segalanya apa adanya. Mohonlah kepada Tuhan agar kita diizinkan untuk melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa terkotori oleh impresi subjektif kita
2) Senantiasa berendah hati
3) Jangan menilai orang lain

Ada cerita sufi klasik tentang sekelompok orang tuna netra yang menyentuh bagian tubuh seekor gajah untuk mengetahui bentuk gajah tersebut. Masing-masing menyentuh bagian yang berbeda—satu menyentuh belalai dan mengatakan gajah itu seperti pipa, satu lagi menyentuh bagian samping dan mengatakan gajah itu seperti dinding, yang lain menyentuh ekor dan menyatakan gajah itu seperti sapu.

Cerita ini menggambarkan betapa ‘kenyataan’ di mata beragam orang dapat berbeda, berdasarkan sudut pandang masing-masing. Hal ini mengindikasikan bahwa apa yang dianggap sebagai kebenaran absolut pun dapat saja menjadi sesuatu yang relatif karena pemahaman kita yang kerap menyelubungi kita.

Untuk itu, cobalah melihat sesuatu secara keseluruhan karena bila tidak, maka akan dapat menyesatkan dan memalingkan kita dari kebenaran.

Sayangnya, rasa keterpisahan (dari Tuhan) yang kita alami kerap membuat kita mengedepankan ego, menciptakan tabir yang menutup Kebenaran, dan membuat kita terlupa bahwa kita adalah sebuah aspek kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Ego ini yang kemudian semakin lama semakin kita lepaskan. Dalam puisi Rumi yang lain, Rumi menuliskan: “Jiwa itu bak sebuah cermin yang bersih, jasad adalah debu yang ada di atasnya. Kecantikan diri kita tidak akan tampak, karena kita tertimbun debu.

Bila seperti dalam kutipan di atas jiwa ini dianggap sebagai cermin, maka kita perlu membersihkan diri kita dari segala debu ego yang menempel sehingga cermin pun dapat merefleksikan citra diri kita yang hakiki.

Sebuah pertanyaan menarik pun muncul: Bagaimana menyadarkan kita dari keterpisahan dan ego yang menggelembung ini, layaknya menyadarkan sang tuna netra dari persepsinya terhadap gajah?

Sebagai langkah awal, berendah hatilah. Kerendahan hati menyadarkan kita bahwa kita adalah fakir (miskin). Pengertian miskin di sini bukan berarti miskin secara fisik, tetapi mengacu ke hati. Seseorang dapat saja hidup seperti raja, namun dalam hatinya, semua itu menjadi sesuatu yang tidak mengikatnya. Karena ketidakpunyaan dan ketidakmampuannya, maka kita hanya bisa berpegang dan bersandar kepada Sang Pencipta..

Melalui kerendahan hati ini pun kita akan semakin membuka diri terhadap proses pengenalan terhadap diri kita sendiri: menjawab pertanyaan siapa saya sebenarnya dan untuk apa saya ada di sini.

Dengan demikian, cermin yang tadinya penuh dengan debu ego akan mulai terkikis dan membersih. Kesadaran pun akan timbul: bahwa sesungguhnya semua upaya kita dan hasil yang dibuahkan dari berbagai upaya tersebut adalah kehendak-Nya.

Ada tiga buah tanda mulai hadirnya kerendahan hati:

(1) kerendahan hati seperti matahari; ia menyinarkan dirinya ke semua orang dan tidak menghalangi refleksinya ke siapa pun; (2) kerendahan hati seperti bumi; ia sabar dalam menghadapi apa pun yang terjadi padanya baik ataupun buruk, ia tidak merubah posisinya; (3) kerendahan hati seperti awan yang memberi hujan kepada siapapun dan dimanapun (di gurun maupun di samudera).

Sikap sabar dan syukur amatlah penting dalam menjalani proses ini. Ingatlah bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Dia pun juga mengingatkan kita untuk tidak memprasangkai makhluk-Nya.

Jadi, jangan cepat menilai orang lain. Ingat banyak sekali hal yang kita tak ketahui (tapi Dia Maha Tahu). Jangan sampai kita terperosok untuk mendefinisikan gajah hanya berdasarkan pengalaman kita memegang telinga si gajah tersebut.

Lebih baik menjaga sikap sabar dan bersyukur.

Terakhir, kerendahan hati berkolerasi dengan sikap taslim (penyerahan diri/submission). Penyerahan diri adalah tindakan aktif untuk menjadi reseptif dan menerima kepada kehadiran Sesuatu yang lebih besar dari diri kita.

Tentunya ego adalah sesuatu yang kadang sulit kita sadari. Kerap muncul hal-hal kecil seperti rasa bangga akan segala prestasi kita. Rasa senang dan tepuk dada bila kita dipuji. Dalam keadaan seperti ini, kembalikan semua kepada Tuhan. Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam. Manusia hanyalah alat.

Seperti yang dikatakan di akhir kutipan yang dibacakan pada awal diskusi: selalu berendah hati dalam kekaguman dan keberhati-hatian di hadapan-Nya. Semoga kita termasuk orang yang senantiasa sabar dan bersyukur.

Topik hari ini Rabu, 2 September 2009:
Cinta: Senantiasa menjadi pencinta
Pembicara: Achmad Chodjim

Ramadhan bersama Rumi adalah kerjasama antara Life Begins @40! di
Dharmawangsa Square dengan Pusaka Hati dan Delta FM. Acara ini merupakan
rangkaian kegiatan diskusi, bazaar dan apresiasi terhadap Rumi serta arena
tukar buku terkait dengan bulan Ramadhan.

Diskusi Ramadhan mengangkat topik perspektif universal, pemahaman akan diri,
cinta & keindahan, dan amal ibadah sebagai pengejewantahan iman, dengan
puisi-puisi Rumi sebagai titik tolaknya. Acara ini diselenggarakan dari
tanggal 24 Agustus hingga 11 September, setiap hari Senin hingga Jumat, dari
jam 17.15 hingga Maghrib. Minum dan ta’jil disediakan oleh panitia.

Untuk informasi tentang kegiatan ini dan Life Begins @ 40 klik

http://www.lifeat40.com/lifeevents.asp
atau hubungi Puput/Jatmiko di +6221 7205066, 08179141607
Untuk informasi tentang Pusaka Hati, klik www.pusakahati.com
Untuk informasi tentang Beshara, klik www.beshara.org
Untuk informasi tentang Rumi, google “Rumi” ☺

[English]
Alunan seruling bambu

Dengarlah alunan seruling bambu
Bagaimana dia meratap pedih karena perpisahan

“Sejak aku dicabut dari tempat tumbuhku
Ratapan kesedihanku telah menyebabkan banyak orang menangis
Kucari dari mereka yang hatinya tercabik karena perpisahan
Karena hanya merekalah yang mengerti pedihnya kerinduan ini
Siapapun yang dicabut dari kampung halamannya
(pasti akan) Merindukan hari dia kembali
Dalam setiap pertemuan, di antara mereka yang bergembira dan bersedih hati
Aku menangis dengan ratapan kesedihanku yang memilukan
Setiap orang akan mendengar sesuai dengan pengertiannya
(Tapi) tak seorangpun telah mencari rahasia di dalam diriku
Rahasiaku dapat dijumpai dalam ratapan kesedihanku
Tapi mata dan telinga tanpa cahaya tidak akan dapat mengetahuinya …”

Suara seruling bambu adalah kobaran api bukan tiupan angin
Apa gunanya kehidupan seseorang tanpa api ini?
Dia adalah api cinta yang membawa musik kepada seruling bambu.
Dia adalah ragi cinta yang memberikan rasa nikmatnya anggur
Alunan seruling bambu yang menyejukkan kepedihan karena kehilangan cinta
Iramanya menyingkap tabir hati
Apakah ada racun yang sepahit ini atau gula yang semanis ini
Seperti alunan seruling bambu.
Untuk mendengar ratapan kesedihan seruling bambu
Apapun yang kalian ketahui harus ditinggalkan.

Versi lebih singkat dari puisi Rumi, alih bahasa oleh Jonathan Star

Catatan diskusi (pada acara Ramadhan with Rumi) tentang puisi ini (dalam Bahasa Indonesia) dapat diunduh dari sini.

Siapakah aku sebenarnya?

[English]

Ramadhan bersama RumiCatatan acara Ramadhan bersama Rumi, Hari ke-empat
Topik: Pengetahuan tentang diri: Who am I? Siapa aku?
Pembicara: Felia Salim

Siapakah aku sebenarnya? Sebuah pertanyaan abadi. Pembahasan mengenai siapakah aku dan apa yang harus kulakukan dalam hidup ini mencakup pembahasan mengenai pengetahuan akan diri sendiri (self knowledge).

Bulent Rauf, konsultan untuk Beshara School, pernah menulis sebuah makalah singkat berjudul ”What is the most important point that must be understood by a person who wants to know?”

Beliau mengatakan, “It is that there is only One, Unique, Absolute, Infinite Existence. It must be more than an idea. One has to be so completely certain of it that one adopts it through reason and intuition as the basic, unshakeable fact of one’s existence.

When it is like that in one’s existence then every possible ramification that occurs to one is seen as not being outside The Existence, but as being an aspect of it.”

Dengan demikian, apabila kita “ingin tahu”, apabila kita ingin memiliki Pengetahuan hakiki, maka pertama-tama kita perlu meyakini bahwa hanya ada satu Keberadaan tunggal. Keyakinan ini harus diterima melalui akal dan intuisi.

Setelah itu, barulah kita menapaki hidup. Selama perjalanan, manusiawi bila kita senantiasa berusaha mempersiapkan pelbagai rencana. Namun apakah perjalanan kita selalu sesuai dengan rencana, pikiran atau antisipasi kita?

Dalam keadaan seperti ini, pentingnya sikap kepasrahan total kepada Sang Pencipta seperti digarisbawahi. Kepasrahan dalam hal ini bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Kita tetap berupaya sekeras mungkin, namun memasrahkan hasilnya kepada Sang Maha Pencipta, dengan tetap menyadari bahwa apa pun yang terjadi tetap merupakan aspek dari suatu Kesatuan Tunggal.

Sikap kepasrahan ini hanya akan tercipta apabila didahului dengan kerendahan hati (humility). Perjalanan kita pun kemudian mengarah menjadi perjalanan untuk merendahkan hati kita secara total.

Kerendahan hati dapat dilatih antara lain dengan mensyukuri segala yang ada.

Jadi ingat, tadi pagi saya membaca notes di Facebook teman saya, sebuah hadits Nabi: “Jangan meremehkan sedikit pun tentang makruf (kebaikan), meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria (senyum)”. Saya rasa bila kita bisa bersikap seperti ini, kita akan menyadari betapa banyaknya karunia dan keajaiban yang telah Ia tunjukkan kepada kita.

Kerendahan hati pun perlu disertai dengan keringanan kita dalam meminta maaf kepada orang (makhluk?) lain bila kita melakukan kesalahan. Berlatih menempatkan diri tidak lebih tinggi dari orang lain dan mengakui diri kita apa adanya, sekali pun itu kesalahan yang kita lakukan.

Bagi saya sendiri, yang paling menarik adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya merenung dan menyadari bahwa pertanyaan yang seakan diajukan oleh orang-orang lain itu merupakan pertanyaan saya juga.

Ada yang bertanya apa manfaat mengenal diri. Saya mengutip hadits Rasulullah yang mengatakan ”know thyself, know thy Lord.” Kenalilah diri sendiri, maka kau akan mengenal Tuhan. Amin. Dengan mengenali Tuhan, kita mengenali pula kehendak-Nya dan kehendak-Nya akan kita. Hidup pun menjadi tertuntun (langsung oleh-Nya) dan kita pun dapat memenuhi fungsi kita di muka bumi sebagai rahmat  bagi sekalian alam.

Jadi ingat puisi singkat Rumi yang mengatakan

I have lived on the lip
Of insanity, wanting to know reasons
Knocking on a door. It opens
I’ve been knocking from the inside

Ada pula yang bertanya apa hubungan kerendahan hati dengan pengenalan diri. Menarik. Secara logika, kerendahan hati penting bukan hanya dalam pengenalan diri namun juga dalam proses belajar apa pun.

Dengan berendah hati, kita mengakui bahwa kita belum tahu segalanya, masih ada pengetahuan yang kita tidak miliki dan dimiliki orang lain. Dengan berendah hati, kita bisa lebih jujur untuk menilik diri sendiri dan menyadari diri kita lebih baik.  Dengan berendah hati, kita secara otomatis membuka hati kita atas pengetahuan baru yang akan kita terima. Hanya hati yang merendah dan terbuka yang dapat menerima pelajaran akan Cinta yang Agung.

Menariknya lagi, ada teman yang bertanya apakah ada jawaban pasti dan permanen yang bisa ia bawa tentang dirinya dari diskusi ini.

Terus terang, saya agak lupa diskusi yang terjadi setelah itu. Namun saya rasa jawaban atau pengetahuan adalah hak prerogatif Tuhan. Bila Dia menginginkan, maka detik ini pun kita akan tahu. Tak ada manusia yang dapat memberikan jaminannya.

Namun kita perlu menyadari dan meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Baik ini senantiasa menebar petunjuk-petunjuk-Nya di sekitar kita dan di dalam diri kita setiap saat. Dia ingin kita mengenal diri-Nya lebih besar dari keinginan kita sendiri untuk mengenal-Nya. Sedemikian besar kecintaan Tuhan pada kita.

Ajakan Mbak Felia sebagai pembicara di penghujung acara agar  ”bila kita sudah mulai bertanya, bertanyalah terus” menurut saya merupa ajakan lembut yang penuh kasih dari Tuhan untuk terus mengenalnya.

Karena, seperti Rumi bilang:

Inside a lover’s heart
There is another world
And yet another

Topik  hari ini Jumat 28 agustus 2009:
Pengetahuan tentang diri: Darimana kita berasal, kemana kita menuju: Inna lillaahi Wainna ilaihi raaji¹un.
Pembicara : Basuki Hardjoseokatmo

Ramadhan bersama Rumi adalah kerjasama antara Life Begins @40! di
Dharmawangsa Square dengan Pusaka Hati dan Delta FM. Acara ini merupakan
rangkaian kegiatan diskusi, bazaar dan apresiasi terhadap Rumi serta arena
tukar buku terkait dengan bulan Ramadhan.

Diskusi Ramadhan mengangkat topik perspektif universal, pemahaman akan diri,
cinta & keindahan, dan amal ibadah sebagai pengejewantahan iman, dengan
puisi-puisi Rumi sebagai titik tolaknya. Acara ini diselenggarakan dari
tanggal 24 Agustus hingga 11 September, setiap hari Senin hingga Jumat, dari
jam 17.15 hingga Maghrib. Minum dan ta’jil disediakan oleh panitia.

Untuk informasi tentang kegiatan ini dan Life Begins @ 40 klik

http://www.lifeat40.com/lifeevents.asp
atau hubungi Puput/Jatmiko di +6221 7205066, 08179141607
Untuk informasi tentang Pusaka Hati, klik www.pusakahati.com
Untuk informasi tentang Beshara, klik www.beshara.org
Untuk informasi tentang Rumi, google “Rumi” ☺

Perspektif universal: Tauhid

Catatan dari hari ketiga acara Ramadhan bersama Rumi bisa diunduh di sini.

Tulisan Sebelumnya »