Mencairkan diri melalui Cinta

[English]
Ramadhan bersama RumiSebuah catatan dari acara Ramadhan bersama Rumi
Topik: Perspektif universal: Pandangan dari puncak – Keesaan dan keberagaman.
Pembicara: Muhammad Baqir MA

(saya minta maaf kepada pengunjung karena saya belum bisa menerjemahkan puisi Rumi ke dalam Bahasa Indonesia. Belum sanggup bow)

Rumi’s Universality

What can I do, Submitters to God? I do not know myself.
I am neither Christian nor Jew, neither Zoroastrian nor Muslim,
I am not from east or west, not from land or sea,
not from the shafts of nature nor from the spheres of the firmament,
not of the earth, not of water, not of air, not of fire.
I am not from the highest heaven, not from this world,
not from existence, not from being.
I am not from India, not from China, not from Bulgar, not from Saqsin,
not from the realm of the two Iraqs, not from the land of Khurasan
I am not from the world, not from beyond,
not from heaven and not from hell.
I am not from Adam, not from Eve, not from paradise and not from Ridwan.
My place is placeless, my trace is traceless,
no body, no soul, I am from the soul of souls.
I have chased out duality, lived the two worlds as one.
One I seek, one I know, one I see, one I call.
He is the first, he is the last, he is the outer, he is the inner.
Beyond “He” and “He is” I know no other.
I am drunk from the cup of love, the two worlds have escaped me.
I have no concern but carouse and rapture.
If one day in my life I spend a moment without you
from that hour and that time I would repent my life.
If one day I am given a moment in solitude with you
I will trample the two worlds underfoot and dance forever.
O Sun of Tabriz (Shams Tabrizi), I am so tipsy here in this world,
I have no tale to tell but tipsiness and rapture

Melalui puisi ini, Rumi mengajak kita untuk mengkontemplasi sebuah pertanyaan abadi “siapa saya?” Ia membawa pertanyaan “apakah yang dimaksud dengan manusia?” ke tingkat yang lebih personal dan individual: “siapa saya?” Diri pun dibuat menjadi subjek dari seluruh pencarian ini, menjadikan “pengenalan diri sendiri” sebagai fokus sentral dari proses pencarian ini.

“What can I do, Submitters to God?” Puisi dimulai dari sebuah kebingungan dalam diri (perplexity). “I do not know myself.” Puisi dimulai dengan pengakuan bahwa ia tak tahu apa-apa. Ia menyapa insan yang tunduk pada Tuhan – muslim dalam maknanya yang luas.

Kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kalimat negasi: saya bukanlah ini, saya bukanlah itu. Sebuah pemahaman tentang apa-apa yang bukan esensi saya. Seperti halnya pernyataan tauhid “Laa illaah ha illa allaah” yang dimulai dengan negasi “Tiada Tuhan” dan dilanjutkan dengan “kecuali Allah.”

Untuk mulai membebaskan diri dari berbagai bentuk dan batasan, melampaui identitas religi, lokasi fisik, keempat elemen diri, atau pun etnis. Untuk memiliki citra diri yang jauh melampaui kepercayaan ataupun pemahaman kita yang sering terbatas ini.

“Saya” yang tertinggi, yang hakiki, bersifat universal. “Saya” inilah yang kemudian diproyeksikan kepada kita sebagai individu.

Kemudian Rumi bergerak mengucap pernyataan afirmatif. My place is placeless, my trace is traceless. No body, no soul, I am from the soul of souls.

Substansi kita adalah Agung, namun kita kerap membuat nilai itu berkurang.

Tuhan mencipta menggunakan nama-Nya Ar-Rahmaan – Sang Pengasih. Dia tak sekedar mencipta dengan Cinta. Seluruh dunia ini merupakan proyeksi Cinta. Seluruh Dunia ini adalah Cinta. Kita ini bukan apa-apa kecuali Cinta. Kita ini bukan apa-apa kecuali Yang Dicinta termanifestasi secara terus-menerus dalam beragam rupa.

Pemahaman ini akan meniadakan dualitas dunia. Membantu kita melihat bahwa secara substansi kita adalah sama. Mungkin saja masih ada saya dan kamu dan mereka dalam dunia yang pluralistic ini namun kita melihat satu sama lain melalui Mata yang tunggal.

Kalau kita berpegang erat pada suatu hal, ujar pembicara sore ini Bagir, seperti memadatkan, membekukan (solidifikasi) diri kita sendiri menjadi es mambo. Saat itulah ego kita berjaya. Saat itu kita mengatakan bahwa saya adalah saya dan bukan kamu. Ini benar dan itu tidaklah sama, bukan ini.

Bahkan ketika kita menerima cinta, kita kemudian memadatkan cinta tersebut. Kita mengkokohkan definisi kita akan cinta. Inilah cinta, yang itu (walaupun sebenarnya cinta dalam bentuk berbeda) bukanlah cinta. Ketika kita diberikan cita rasa suatu kepercayaan, dan yang lain bukanlah kepercayaan yang sebenarnya. Kita memadatkan, mengkokohkan, membekukan suatu definisi dan menafikkan yang lain.

Satu-satunya cara untuk kembali adalah dengan menghangatkan dan mendidihkan es ini hingga mencair menjadi suatu samudera universal tunggal.

Salah seorang peserta diskusi bertanya bagaimana cara kita melelehkan es tersebut. Menurut saya, Bagir menanggapinya secara luar biasa: Bagus donk bahwa Anda bertanya itu. Itu berarti Anda tidak suka dan tidak ingin menjadi es mambo. Itu titik awal yang amat baik.

Es meleleh karena panas. Panas datang dari kemarahan dan penderitaan. Panas dapat pula datang dari cinta. Beberapa dari kita (naudzubillaahi min dzalik) didera kemarahan dan penderitaan berulang kali hingga mereka menyadari bahwa satu-satunya jalan adalah dengan kembali kepada-Nya.

Jadi, kalau menurut saya sih, pilihlah jalan Cinta. Mulailah jatuh Cinta. Lebih mudah dan lebih bisa dinikmati.

Terima kasih untuk diskusi yang demikian menyentuh.

Selanjutnya — Topik nanti sore (25 Agustus): Perspektif Universal: Inklusivitas sebagai esensi agama.

Ramadhan bersama Rumi adalah kerjasama antara Dharmawangsa Square dengan Pusaka Hati. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan diskusi, bazaar dan apresiasi terhadap rumi serta arena tukar buku terkait dengan bulan Ramadhan.

Diskusi Ramadhan mengangkat topik perspektif universal, pemahaman akan diri, cinta & keindahan, dan amal ibadah sebagai pengejewantahan iman, dengan puisi-puisi Rumi sebagai titik tolaknya. Acara ini diselenggarakan dari tanggal 24 Agustus hingga 11 September, setiap hari Senin hingga Jumat, dari jam 17.15 hingga Maghrib. Minum dan ta’jil disediakan oleh panitia.

Untuk informasi tentang kegiatan ini dan Life Begins @ 40 klik http://www.lifeat40.com/lifeevents.asp atau hubungi Puput/Jatmiko di +6221 7205066
Untuk informasi tentang Pusaka Hati, klik www.pusakahati.com
Untuk informasi tentang Beshara, klik www.beshara.org
Untuk informasi tentang Rumi, google “Rumi” ☺


About this entry