(Artikel) Femina: Melihat diri sendiri di Skotlandia

[English]
Artikel yang kutulis di Femina tentang perjalananku ke Skotlandia.

Femina - Melihat Diri Sendiri Di Skotlandia (1 of 2)

Femina - Melihat Diri Sendiri Di Skotlandia (2 of 2)

“MELIHAT’ DIRI SENDIRI DI SKOTLANDIA

Mengasyikkan bila kaki ini sudah bisa diajak melangkah kemana pun hati berbisik.

GAYA MELANGKAH SEPERTI INI yang menuntun saya, Eva Muchtar, berjalan. Tahun lalu, ketika saya yang terbiasa dengan kehidupan kota besar Jakarta dengan segala hiruk pikuk, saya ‘harus’ menghabiskan 6 bulan di lokasi terpencil dan tenang di Skotlandia. Di sana, saya mengikuti pendidikan di Beshara School of Esoteric Education. Sekolah ini membahas tentang siapa kita, potensi kita dan untuk apa kita hadir di dunia.

Saya pertama mengenal Beshara ketika saya diajak teman mengikuti kursus akhir pekan di Jakarta. Di penghujung kursus, saya ngobrol dengan supervisor dari Beshara. Saya menyatakan minat untuk mengikuti kursus, namun ada hambatan dana. Ia menyarankan saya mengirim surat kepada kepala sekolahnya.

Saran itu menempel di kepala saya. Sepuluh hari setelah mengirim surel, saya mendapatkan balasan: ‘OK!’

Ha? OK? Hidup memang penuh kejutan.

TAK PUNYA HARI LIBUR

Skotlandia sebenarnya tidaklah terlalu asing buat saya. Sekitar 11 tahun lalu saya pernah mengenyam pendidikan di sana, tepatnya di kota Stirling. Kini saya kembali ke tanah yang demikian damai dan memberikan kesan begitu kuat dalam hati saya ini. Seperti pulang kampung. Senang sekali!

Edinburgh tetap menyambut saya dengan gaya khasnya: awan kelabu menggantung dan hujan rintik-rintik. Tak mengapa. Hujan itu malah menambah keindahan pemandangan yang terhampar.

Buat saya, seperti mimpi bisa kembali menjejakkan kaki di negeri ini. Saya bergerak perlahan mendekati sekolah saya, sekitar 20 menit perjalanan ke luar kota.

Saya lalu diajak berkeliling area rumah dan perkebunan The Chisholme House. Serasa hidup di masa-masa klasik karena keaslian ruangan-ruangan itu dan keasrian alam dipelihara secara serius. Kamar saya sendiri terdiri dari empat tempat tidur, berdinding putih dan aksen kayu pada kusen-kusen jendela. Kamar itu sudah tertata rapi dan bersih, lengkap dengan bunga segar di atas meja di tengah kamar, serta sepiring buah segar sebagai sambutan selamat datang yang hangat.

Keesokan hari, kursus saya dimulai. Program yang saya ikuti di Beshara ini berupa retreat yang berlangsung tanpa jeda dengan kegiatan harian yang cukup intensif. Tahun itu, satu kelas (dan hanya ada satu kelas intensif enam bulan) terdiri dari delapan orang, didampingi dua supervisor yang telah belasan tahun bersama Beshara.

Hari-hari saya dipenuhi dengan rutinitas cukup ketat dan luar biasa konsisten.  Hari-hari tersebut terbagi dua tipe: hari belajar dan hari kerja. Dua hari belajar, dua hari kerja, dua hari belajar, begitu seterusnya. Hal ini berlangsung terus, tanpa hari libur ataupun istirahat.

Suatu kali saya mengomentari tentang betapa intensifnya program ini. Teman saya bilang, “Kan sudah diperingatkan sebelumnya. Perhatikan nama kursusnya: Intensive six month course.”  Program ini sendiri terdiri dari 4 aspek: belajar, kerja, meditasi dan devotional practice. Semua aspek saling mendukung dalam membantu para murid menelusuri diri dan mengembangkan potensi sesungguhnya. Hmm… kedengarannya berat sekali, ya?

Begini kira-kira urutan kegiatan di hari belajar saya: Bangun tidur, mandi, meditasi, sarapan, belajar, rehat kopi, belajar, meditasi, makan siang, kerja, rehat teh, belajar, meditasi, kerja, malam malam, mandi, dan diakhiri oleh kegiatan meditasi dinamis. Hari dimulai sekitar pukul 6 pagi dan berakhir kira-kira pukul 22.30. Pada hari kerja, jadwal kurang lebih sama, namun waktu-waktu studi diisi dengan bekerja.

Belajar dilakukan secara berkelompok. Kami membaca teks klasik terkait dengan apa makna menjadi manusia, termasuk karya Muhyiddin Ibn ‘Arabi, buku  Tao Te Ching, Baghavad Gita, serta puisi-puisi Rumi. Penekanan sesi belajar adalah memberi kesempatan bagi kami untuk bertanya dan menilik ke dalam diri, untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh teks-teks ini.

Berbagai pertanyaan dan rasa yang timbul diungkap dan didiskusikan bersama. Tak ada pertanyaan yang dianggap bodoh. Semua pertanyaan  valid dan perlu ditelaah sebagai suatu pertanyaan bersama.

Aspek meditasi dan devotional practice tak terpisahkan. Aspek ini membantu kita mengadakan perjalanan ke dalam diri, menumbuhkan sentimen atau cita rasa untuk mengukuhkan pengetahuan diri ini.

Sementara, untuk aspek kerja, jangan dibayangkan kerja kantoran seperti yang dilakukan oleh para profesional Jakarta. Kerja di sini adalah kerja sehari-sehari di rumah, seperti memasak di dapur (termasuk membuat roti dan yoghurt), berkebun, membereskan kamar, membersihkan kandang ayam, membuat parit dan membangun pondok kayu baru. Wah, kapan lagi saya melakukan hal-hal ini!

KERJA PUN DIMAKNAI

Saya benar-benar menikmati saat-saat bekerja, apa pun tugas yang diserahkan kepada saya. Saya adalah pemula dalam hal mengurus rumah, dapur dan kebun. Jadi, setiap tugas adalah hal baru dan kesempatan belajar. Menarik, karena keadaan ini membuat saya menjadi orang yang sangat terbuka dan menurut. Ketika diresapi, tugas-tugas ini bisa membuka pikiran saya untuk belajar hal-hal yang tak pernah saya kira bisa pelajari melalui hal-hal sepele.

Suatu kali saya ditugaskan membuat api unggun. Saat itu angin bertiup dengan kencang. Asap dari api unggun seolah mengikuti kemana pun saya bergerak. Hingga kemudian, saya menyadari, saya perlu memperhatikan ke mana arah angin bergerak dan saya harus bergerak ke arah seballiknya, agar terhindar dari terpaan asap. Bergeraklah sesuai dengan arah angin.

Saat saya tengah berada di kebun, saya memperhatikan daun berjatuhan. Kita mungkin berpikir itulah akhir hidup sang daun. Ternyata tidak. Daun-daun kering dikumpulkan, ditumpuk kemudian dipendam selama dua tahun dan berubah menjadi pupuk. Pupuk ini pun kembali dipakai di kebun yang sama untuk menyuburkan generasi tumbuhan mendatang.

Saya kerap ditugaskan untuk memperbaiki perlengkapan keramik (piring, cangkir, hingga jambangan bunga). Suatu latihan konsentrasi, kesabaran dan ketelatenan yang sangat menyenangkan. Saya bisa asyik melakukannya satu jam lebih.

Saat-saat menyiapkan meja makan adalah saat paling menarik untuk dicermati. Meja makan selalu disiapkan bersama. Tak ada pembagian kerja secara eksplisit. Namun, semua seperti mengalir. Siapa yang menaruh piring dan sendok, memotong roti, menyiapkan buah, menghidangkan makanan, semua berjalan tanpa ada komando dari seorang pun. Tiap orang melakukan hal yang belum dilakukan orang lain, mengisi kekosongan. Satu gerakan tunggal yang mengalir alami.

Lucunya, ada satu pekerjaan yang sering kali dipilih orang, termasuk saya, bila sedang kesal dan ingin sendiri: mencuci perlengkapan masak, seperti panci-panci besar, di dapur. Mungkin panci-panci yang berat dan sering kali ada gosongnya itu, membantu kami menyalurkan emosi. Pokoknya, kalau saya sudah ambil posisi di situ dan saya tidak terlalu banyak bicara [sic].

PERJALANAN KE DALAM DIRI

Dari kesemuanya, yang paling menarik bagi saya adalah perjalanan di dalam diri. Mengamati emosi saya yang naik-turun dan pikiran saya yang gemar mengembara ke sana kemari. Sebuah tantangan terbesar bagi saya untuk bisa memahami dan menerima diri apa adanya.

Suatu hari di awal tahun, saya sedang membantu pembuatan parit. Kala itu salju cukup tebal. Saya menjejakkan kaki ke dalam parit dan terpeleset. Lutut kanan saya terkilir. Saya dibawa ke rumah sakit dan kaki saya pun dibalut agar tak bergerak. Saya yang aktif harus menggunakan kruk selama satu bulan lebih dan mengakui keterbatasan saya ini.

Saya berusaha positif. Saya memandangnya sebagai saran agar berhenti sejenak dan membiasakan diri untuk menerima uluran tangan orang lain. Hingga supervisor saya bilang: “Kamu terlalu positif.” Waduh!

Saat itu dia mengingatkan, manusia itu tak diharapkan selalu positif. Manusia diharapkan bisa jujur terhadap dan tentang dirinya. Manusia hendaknya bisa menerima dan menyayangi diri apa adanya, dalam keadaan apa pun. “Seperti halnya Tuhan telah menerima dan menyayangi kamu apa adanya,” ujarnya. Air mata saya langsung meleleh….

Menariknya lagi, sekolah saya menghargai keunikan proses atau perjalanan masing-masing individu.Walau kami merupakan satu kelompok, sebenarnya kami berjalan sendiri-sendiri dengan pengalaman (terutama pengalaman batin) yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ada kalanya, saya merasa sedih, merasa marah, ingin menangis. Maka, rasa itu dihormati. Saya pun diberikan sedikit ruang, sedikit jarak, untuk bersama dengan diri ini. Saat sendiri itu, jawaban atau penjelasan dari mana rasa ini berasal, seringkali muncul dalam benak. Supervisor saya berkata, “Pertanyaannya adalah, apakah kamu sudah menghargai rasa dalam dirimu sendiri dan memberinya kesempatan untuk berekspresi?” Yah, saya menangis lagi, deh.

Perjalanan individual ini lebih terasa lagi ketika suatu hari sekolah saya mengadakan silent day. Selama 24 jam, kami diam, tak berbicara satu dengan yang lain, dan lebih melihat ke dalam diri. Hari itu saya menyadari betapa pribadinya hubungan manusia dengan Tuhan. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menghadap Tuhan dan menjalankan peran di dunia ini sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Hari itu pula saya menyadari betapa saya telah jatuh cinta kepada Tuhan.

Waktu terasa berjalan demikian cepat. Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Tanpa terasa, enam bulan sudah hampir berlalu. Di hari-hari terakhir, seorang murid lama Beshara bertanya, “Apa yang akan berubah sekembalinya saya dari kursus ini?” Saya terenyak sejenak. Saya lalu bercerita ada satu tema yang terus muncul di benak saya dalam sebulan terakhir: tetapkan pandanganmu kepada-Nya dan heninglah.

Tetapkan pandangan. Kala itu, saya menyadari makna lain dari kata-kata “lillaahi ta’ala”, untuk ‘mengizinkan’ Tuhan atau kekuatan maha ini mengatur serta menuntun langkah kita.

Malam terakhir, ada acara makan malam untuk merayakan selesainya kursus. Murid-murid Beshara, lama ataupun baru, berkumpul berbagi kebahagiaan. Terharu sekali melihat betapa para murid lama begitu bangga dan senang melihat kami berhasil. Makanan istimewa pun digelar.

Satu per satu para murid pergi. Yang tadinya berupa satu kelompok yang 24 jam bersama selama enam bulan penuh, kemudian berpisah ‘begitu saja’. Berbagai ragam rasa berkecamuk. Senang karena sebentar lagi saya akan bertemu dengan keluarga dan teman-teman, sedih karena saya merasa meninggalkan sesuatu yang demikian indah.

Saya teringat terakhir kali menapaki dan duduk merenung sendiri di bukit di depan sekolah. Saat itu saya bertanya, entah pada siapa yang mendengar: sekarang saya harus bagaimana? Apalagi yang harus saya lakukan? Jawaban yang menyelinap di kalbu saya: menyelamlah lebih dalam. Terbang lebih tinggi. Dan mencintalah. Love. Just Love. Saat itu saya tersenyum sekaligus meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Pelajaran lama yang abadi.

KOTAK

NAIK APA KE SANA

The Chisholme House, kampus Beshara di Skotlandia, terletak di perbatasan Skotlandia dan Inggris, 15 menit dari kota terdekat, Hawick.

Bandara terdekat Edinburgh, Skotlandia. Dari bandara, naik Airlink shuttle bus ke pusat kota, berhenti di Waverley Train Station.

Dengan bus pun bisa. Dari depan Waverley Station, berjalan (kurang lebih 15 menit) ke Saint Andrews Bus Station. Naik bus no 95 atau X95 jurusan Carlisle. Turun di Morrisons Supermarket, Mart Street, Hawick.

Lanjutkan dengan taksi dari Hawick ke The Chisholme House (kurang lebih 10 pounds) atau telepon Chisholme untuk mengatur penjemputan.

Bisa juga menghubungi The Chisholme House untuk mengatur penjemputan langsung dari bandara ke kampus Beshara.

Silakan kunjungi www.beshara.org.

-oOo-


About this entry