Jika kuterduduk sendiri

[English]
Jika Kuterduduk Sendiri
Sebuah puisi oleh Rumi

man pray - verticalAku tahu bahwa Tuhan akan memberikan roti harianku. Tak ada gunanya berlari-lari dan bercapai lelah untuknya. Sesungguhnya, ketika aku menyisihkan ideku tentang uang, makanan, pakaian, hasrat pemuasan fisik, segalanya mulai menghampiriku secara alamiah.

Ketika aku bergegas mengejar apa yang kupikir kuinginkan, hari-hariku diwarnai oleh kekhawatiran dan kegelisahan; jika aku terduduk sendiri dengan sabar, apa yang kubutuhkan mengalir padaku, tanpa rasa sakit.

Darinya, aku mengerti bahwa apa yang kuinginkan juga menginginkanku, ia melihat dan menarikku, ketika ia tidak dapat lagi menarikku ke arahnya, ia harus datang padaku. Ada rahasia besar di dalam ini bagi mereka yang mengerti.

Apa yang akan kukatakan padamu adalah: sibukkanlah dirimu dengan permasalahan dunia sana dan segala sesuatu di dunia ini akan mengejarmu. Ketika aku berkata, “jika aku terduduk di tempat kesendirianku dengan sabar,” yang kumaksud “terduduk” adalah duduk sebagaimana dengan permasalahan akhirat.

Jika kau tersibukkan dengan akhirat pada kenyataannya kau berlari; jika kau menyibukkan diri dengan dunia maka sebetulnya kau terdiam tanpa melakukan apa-apa. Bukankah Rasulullah (saw) berkata: “Rangkumlah semua keinginanmu menjadi satu dan Tuhan akan mengatur semua keinginanmu yang lain?”

Katakanlah ada 10 permasalahan yang mengganggumu; pilihlah satu tentang akhirat, dan Tuhan akan membereskan 9 permasalahan lainnya tanpa ada kebutuhan darimu untuk melakukan apa pun. Ada rahasia besar di sini bagi mereka yang dapat memahaminya.

Senja itu, saya duduk dan mendengarkan seorang teman membacakan puisi di atas. Saya terseguk bahkan sejak paragraf pertama dibacakan. Puisi ini menohok tepat di tengah jantung saya. Bertutur tentang siapa saya. Apa saya. Rasa pun tertumpah ruah.

Mungkin kau tak tahu, saya telah berlari sepanjang hidup. Setiap orang punya stimulannya masing-masing. Stimulan saya adalah untuk senantiasa berlari di gigi lima: bekerja, berkegiatan aktif, dan bersosialisasi.

Saya terus berlari karena saya ingin membenarkan segala yang salah. Saya tak mempercayai siapa pun, tidak juga Tuhan, untuk membereskan segalanya buat saya. Saya harus melakukannya sendiri dengan kedua tangan mungil saya ini.

Saya jadi bertanya-tanya, walau saya selalu mengucap bahwa saya percaya pada Tuhan, apakah saya benar-benar percaya pada Tuhan? Ketika saya berkata saya memiliki keyakinan, apakah benar-benar yakin?

Saya terus berlari karena saya ingin menciptakan suatu kesempurnaan di tengah kekacauan apa yang disebut dengan hidup ini. Saya terus berlari karena hal ini membuat saya merasa hidup dan berarti. Saya menjadi seseorang ketika saya berlari.

Saya takut untuk berhenti. Jika saya berhenti, saya akan berhenti hidup pula. Keseseorangan ini akan mengelupas menjadi bukan apa-apa. Saya akan menyadari kekosongan, ketiadaan dan menegaskan perasaan yang selama ini telah mengada: saya bukanlah orang yang diinginkan oleh siapa-siapa.

Bisa membayangkan betapa melelahkannya menjalani hal ini? Mungkin tidak.

Jadi saya pun berlari. Saya berlari hingga saya tak dapat berlari lagi, hingga saya tidak memiliki tenaga lagi, baik secara fisik maupun emosi, untuk bergerak. Kemudian saya merasa dipaksa untuk berhenti. Saya tak memiliki pilihan kecuali menurut: saya pun berhenti. Bukan main pedihnya saat berhenti itu. Segala rasa yang terpendam jauh dalam jiwa pun mengemuka liar.

Pada saat yang sama, saya pun mulai mengenal-Mu. Segala kelelahan, kemarahan, ketidak percayaan diri, dan rasa sakit adalah Kau yang memanggil-manggil saya. Juga saya yang demikian merindukan-Mu. Perlahan langkah terpaksa untuk berhenti atau memperlambat langkah ini pun berubah menjadi tindak suka rela, atau bisakah saya katakana, suatu tindak atas nama Cinta.

Kemudian puisi ini dibacakan kepada saya. Mungkin puisi ini menggiring kembali semua memori beserta airmata dan rasa sakit ke permukaan hati. Rasa ini masih sedemikian kuat.

Bahkan saya kembali menangis ketika menulis posting ini. Ini adalah Kau yang kembali menyapa saya, seperti yang senantiasa Kaulakukan. Terima kasih karena Kau tak pernah menyerah dan membiarkan saya sendiri.

Puisi ini merupakan pengingat yang demikian lembut dan penuh kasih buat saya: Saya akan terduduk di tempat saya sendiri. Dan biarlah Kau yang menapaki sisa langkah saya.


About this entry