Malam Kemuliaan (2): ayat per ayat

[English]

Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk menjalankan segala urusan.
Malam itu (penuh) kedamaian sampai terbit fajar.

QS Al Qadr (97):1-5


Ayat-ayat ini menjadi demikian popular khususnya pada bulan Ramadhan, karena salah satu pemaparan yang jamak terdengar dari ayat-ayat ini adalah bahwa Malam Kemuliaan (atau dalam bahasa Arabnya lailatul qadr) terjadi di malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan (jadi 21, 23, 25, 27, 29).

Walaupun saya tidak meragukan kemungkinan teralaminya Malam Kemuliaan di tanggal-tanggal itu, saya percaya bahwa ayat-ayat ini mengandung makna yang lebih universal, lebih dalam, dan lebih menyeluruh bagi seluruh umat manusia, apapun latar belakang dan kepercayaannya.

Apa yang akan saya ungkapkan di sini adalah kontemplasi dan pemikiran pribadi berdasarkan percakapan saya pagi ini.

(QS97:1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan
(QS97:2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Kami – Al Qur’an kadang menggunakan kata “Kami” (orang pertama jamak) untuk Tuhan ketika ingin menegaskan peran serta makhluk/ciptaan dalam suatu proses. Hal ini berarti (1) perlu ada upaya dari pihak makhluk (baca: manusia) dan (2) bisa terjadi jika dualitas telah menunggal. Hanya ketika kita menyadari bahwa hanya ada Keberadaan-Nya, bahwa Keberadaan sejatinya adalah milik-Nya, maka hal ini bisa terwujud.

Nya – Ayat ini tidak secara eksplisit menyebut “Al Qur’an”. Ayat ini mengatakan menurunkan”-nya”. Beberapa ulama mengatakan “-nya” di sini berarti “Al Qur’an”, dan beberapa yang lain mengatakan ini berarti “Kebenaran.” Apapun maknanya, umat Islam percaya bahwa Al Qur’an adalah cermin sempurna dari Keberadaan, sebuah tuntunan hidup yang lengkap dan purna.

Malam – simbol spiritual dari keheningan.

KemuliaanQadr juga berarti ketentuan. Ketentuan Tuhan.

Tuhan menurunkan Kebenaran kepada ciptaan-Nya yang berada dalam keadaan hening, mengabarkan kepada para ciptaan tersebut mengenai Ketentuan-Ketentuan-Nya terhadap diri sang makhluk maupun hal lain yang ada di alam. Hanya mereka yang berhati hening yang dapat memahami Ketentuan-Nya.

QS Ali Imran (3):189-191 memberikan pemaparan tentang mereka yang berada dalam keheningan.

(QS3:189) Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Pernyataan afirmatif bahwa Tuhanlah yang menguasai segala yang ada di langit dan bumi. Maka, ketentuan dan daya pun adalah milik-Nya semata. Jika kita hidup di dunia ini, maka kita perlu patuh terhadap ketentuan-Nya.

(QS3:190) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Kata dalam bahasa Arab yang kerap diterjemahkan sebagai “orang-orang yang berakal” di sini adalah “Ulil albaab” (bukan aql’). Kata albaab adalah plural dari lubb, lubuk hati, bagian hati yang terdalam. Hanya mereka yang hidup dengan lubuk hatinya yang dapat benar-benar memahami tanda-tanda Tuhan.

Siapakah mereka?

(QS3:191) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Mereka yang mengingat (zikr) Tuhan setiap saat (diandaikan dalam ayat ini sebagai “sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring”), mereka yang tak pernah berpaling dari Tuhan, mereka yang memikirkan (berkontemplasi) tentang dunia dan kehidupan. Perhatikan bahwa kontemplasi ditaruh setelah zikr.

Kontemplasi dan zikr seperti ini akan membawa kepada kesadaran akan kesejatian ciptaan, untuk dapat melihat/memahami segala hal sebagaimana adanya. Juga akan membawa kepada kesadaran bahwa tak ada yang diciptakan sia-sia, semua memiliki maksud, dan bahwa semua ini adalah pergerakan cinta. Cinta-Nya.

Hati-hati ini tidak bisa tidak memuji keagungan Tuhan, dan mensucikan Tuhan dari segala prasangka buruk. Ketakutan terbesar dan satu-satunya yang dimiliki oleh hati-hati ini adalah bila berjarak, berada jauh, dari-Nya, dan melihat sekedar ciptaan dan tak dapat melihat kesejatian di balik ciptaan tersebut.

Hati-hati ini paham akan makna sejati dari pernyataan “kemana pun kamu menghadap, di situlah Wajah Allah” dalam QS Al Baqarah (2):115.

(QS2:115) Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap, di situlah Wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

Bagi hati-hati ini, shirik bukan sekedar penyembahan kepada tuhan-tuhan lain (selain tuhan yang kita yakini), melainkan untuk berpikir bahwa kita ini ada dan berdiri sendiri secara independen, untuk melihat ciptaan tanpa mengakui keberadaan Tuhan di situ.

Mari kita kembali kepada QS 97.

(QS97:3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

Saat-saat hening dan sadar ini, bila terwujud, akan lebih baik dari bila saat-saat lainnya dalam kehidupan digabung sekalipun. Saat penyatuan, penunggalan.

Setelah itu, kehidupan di dunia pluralitas ini akan dilihat menggunakan kacamata yang berbeda. Setiap sapaan dan interaksi kita dengan kehidupan akan memiliki warna berbeda, kualitas berbeda.

(QS97:4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk menjalankan segala urusan.

Malaikat-malaikat – simbol kebaikan. Jamak, menandakan keberlanjutan.

Ruh – Ruh Tuhan. Inti diri kita, kualitas keilahian dalam diri kita.

Kehidupan akan dipenuhi dengan kebaikan. Kualitas-kualitas ketuhanan akan menjadi dominan dalam pikiran, perasaan, ucapan dan tindakan kita.

(QS97:5) Malam itu (penuh) kedamaian sampai terbit fajar.

Dan jika hal ini terjadi, muncullah kedamaian sejati. Kedamaian, kebahagiaan seperti ini akan terus berlanjut hingga suatu saat, semua menjadi jelas, pencerahan, tercerahkan. Kemudian laku kita akan berdasar pada apa yang benar, bukan suka atau tak suka.

Semua akan melalui izin penuh dari-Nya. Kita ‘tak memiliki pilihan’ kecuali untuk melakukan yang benar, dan yang benar adalah yang telah Dia tentukan.

Meskipun ayat-ayat di atas jelas-jelas mengacu kepada orang-orang yang amat khusus, Al Qur’an adalah tuntunan bagi kita semua. Karena itu, ayat ini pun untuk kita pula.

Dalam ayat-ayat ini, ada ajakan untuk meningkatkan ingatan kita kepada Tuhan (zikrullah), untuk menerima Ketentuan-Nya, untuk tidak langsung menilai karena semua adalah milik-Nya, dan untuk meminta tuntunan Tuhan di setiap langkah: tanyakan pada-Nya, bagaimana Dia melihat hal ini? Apa yang Kau ingin aku lihat dari ini? Dan insya Allah, Malam Kemuliaan akan kita alami. Saya percaya ini mungkin. Dia sedemikian Pengasihnya. Amin.

Catatan:
Kata “qadr” memiliki akar kata: Qaf-Dal-Ra = mengukur/mengatur/menentukan/menahan, memiliki kuasa, mampu, ukuran, cara, kemampuan, ketentuan, kemusnahan, takdir, terukur, tergariskan.

Kata “taqdir” memiliki akar kata yang sama dan berarti: pengetahuan, aturan, ketentuan ukuran, keputusan, pengaturan.

Sumber: Study Qur’an.


About this entry