Sebuah perjalanan spiritual bernama keseharian

[English]
Pertama diterbitkan di The Jakarta Post Weekender – Edisi Juli 2011


Beberapa tahun lalu, saya terduduk di depan Ka’bah di kota suci Mekkah. Saya katakan pada Tuhan, “Tolong tunjukkan saya cara untuk membaca Al Qur’an. Karena saya tidak percaya Tuhan yang Maha Pengasih Maha Penyayang seketat dan segemar itu dalam menghukum seperti yang mereka katakan.”

Tampaknya sejak itu Tuhan tiada henti menanggapi permintaan saya. Hidup telah menjadi sebuah dialog, sebuah percakapan hangat antara kami.

Saya lahir dan besar sebagai seorang muslim di Jakarta. Namun, otak kiri saya tak henti berputar. Semua hal menggelitik saya. Saya memiliki berbagai banyak pertanyaan tentang hidup. Dan saya menyukainya. Pertanyaan-pertanyaan itu telah menggerakkan saya sepanjang hidup saya. Pertanyaan-pertanyaan itu telah membawa saya ke tempat-tempat yang demikian luar biasa dan telah membentuk hidup saya lebih dari yang dapat saya bayangkan.

Enam tahun lalu, saya bekerja sebagai seorang konsultan penuh-waktu. Pekerjaan yang telah saya lakoni selama tujuh tahun. Saya demikian passionate terhadap pekerjaan dan kehidupan. Saya bekerja hingga larut dan giat bersosialisasi. Kehidupan tipikal seorang profesional di Jakarta.

Sampai suatu hari, saya seperti kehabisan bensin. Terasa aneh di diri saya, yang mendorong timbulnya pertanyaan: saya mencintai pekerjaan saya, saya menyayangi perusahaan saya, dan saya menyukai orang-orang yang ada di sekitar saya … lantas kenapa saya merasa demikian gelisah?

Saat itu, saya tahu kalau saya perlu melompat ke luar siklus pergerakan tiada henti yang telah akrab dengan saya ini, minimal untuk sementara waktu. Saya memutuskan untuk berhenti sejenak. Saya keluar dari pekerjaan saya dan berkelana.

Selama masa tersebut, saya belajar suatu hal yang cukup asing bagi saya: saya belajar untuk memperlahan ritme hidup saya. Ketika saya melambat, saya mulai dapat mendengarkan secara lebih seksama lingkungan saya, dan yang terpenting, diri saya. Saya menyadari betapa lelahnya diri ini dan betapa leganya saya dengan waktu istirahat saya ini. Saya mulai menyadari hal-hal kecil di dalam dan di sekitar saya, hal-hal kecil yang demikian indah.

Saya mulai lebih giat berdoa, bermeditasi, dan membaca tulisan spiritual klasik mulai dari Al Ghazali dan Rumi hingga Tao Te Ching dan Madame Blavatsky. Saya terus melakukan ini bahkan setelah saya kembali bekerja – kini sebagai seorang tenaga lepas, agar saya dapat lebih leluasa mengatur waktu saya dan memastikan bahwa saya memiliki ruang bernapas.

Pemikiran mendalam
Tiga tahun lalu, saya memutuskan untuk melangkah lebih dalam: saya mendaftarkan diri saya ke program intensif enam bulan di sebuah sekolah esoterik di Skotlandia. Saya ingin menerapkan, mengalami hidup bersama teks-teks yang telah saya baca ini.

Sekolah yang saya datangi ini didasari oleh prinsip ketunggalan keberadaan, bahwa hanya ada satu Keberadaan dan tiap-tiap kita adalah ekspresi unik dari-Nya. Bila kita ingin sepenuhnya menghidupi, menghargai, mengakui prinsip ini, kita perlu mengizinkan agar Diri sejati ini berekspresi melalui kita – jadi, untuk kita menjadi sejatinya diri kita. Sebuah pedekatan yang demikian jujur terhadap kehidupan.

Apa yang saya temui selama enam bulan tersebut sama sekali di luar dugaan saya. Saya bertemu … dengan diri saya. Bahkan setelah ‘terlepas’ dari tekanan eksternal seperti kemacetan lalu lintas, tenggat waktu, dan persaingan, serta tinggal di ruang yang demikian indah, saya tetap saja mengalami berbagai perasaan, kebiasaan dan emosi yang telah lama saya akrabi. Lapisan-lapisan yang telah saya kumpulkan sepanjang hidup untuk membangun sebuah identitas yang saya sebut “diri saya”.

Di sana saya belajar untuk menghadapi rasa-rasa tersebut, untuk mengenali dan mengakuinya, layaknya mengupas lapisan-lapisan bawang. Saya menyaksikan betapa rasa-rasa tersebut berevolusi seiring pergerakan saya menuju inti bawang tersebut. Saya telah tumbuh menjadi – atau minimal lebih mendekati – diri saya. Sebuah pendidikan dalam keberserahan diri, kepatuhan, dan keberadaan. Saya jatuh cinta kepada kehidupan.

Jadi ketika seorang teman menaruh pertanyaan di Twitter suatu hari, “Apakah praktik spiritualmu dan apa pengalaman spiritualmu?” saya lantas dengan yakinnya menjawab, “Praktik spiritual saya adalah meditasi dan pengalaman spiritual saya akhir-akhir ini adalah retreat di Skotlandia.”

Sekembalinya saya ke Jakarta, saya ‘melanjutkan’ hidup saya seperti sebelumnya. Keluarga yang sama, pekerjaan yang sama, dan kebiasaan lama untuk ngopi-ngopi bersama teman.

Namun ada yang berbeda: cara saya mengada telah berubah. Saya lebih mencermati apa yang terjadi di sekitar dan di dalam diri saya. Saya lebih mendengarkan diri saya, saya mengakui bagaimana keadaan saya di setiap waktu dan saya bertindak sesuai dengan keadaan saya setiap saat. Saya lebih jujur terhadap diri saya. Saya lebih menjadi diri saya sendiri.

Dan ini luar biasa menarik. Kerap saya menyaksikan emosi dan pikiran mengemuka dalam diri dan saya berpikir, wah, saya tidak tahu sebelumnya kalau saya seperti itu. Atau saya mulai menyadari betapa kadang berbedanya cara saya berpikir dibanding dengan orang-orang di sekitar saya dan bagaimana saya menyikapi perbedaan tersebut.

Mengatasi permasalahan
Kadang saya tidak melihat sebuah “masalah” sebagai sesuatu yang perlu diatasi atau dicarikan jalan keluarnya. Apa yang mengemuka di suatu saat adalah apa adanya. Mungkin ada hal yang perlu mengekspresikan dirinya.

Saya hanya perlu membiarkannya mengada dan menyaksikan bagaimana hal itu berubah dengan sendirinya—dan menyimak bagaimana saya menanggapinya: Apa saya setuju? Apa saya senang? Apa saya protes? Apa saya marah? Tanggapan saya terhadap suatu situasi mencerminkan keadaan saya saat itu. Sebuah proses yang saya lalui untuk lebih memahami diri saya sendiri.

Hidup kini telah menjadi sebuah perbincangan indah antara Tuhan dan saya. Namun, saya menyadari bahwa saya baru menyentuh permukaannya saja. Masih banyak lagi. Jauh lebih banyak dari yang saya sadari sekarang.

Saya masih terus bermeditasi, ngobrol dengan teman, membaca teks spiritual, dan menjalani retreat. Saya masih membutuhkan oasis-oasis itu untuk membantu saya tetap berada ‘di tengah’ dan untuk mengingatkan saya akan perjalanan saya ini.

Namun apa yang disebut sebagai perjalanan spiritual saya kini telah menjadi jauh lebih luas, lebih menyeluruh, sedemikian hingga ia melingkupi seluruh kehidupan saya.

Malam ketika teman saya melempar pertanyaan tentang praktik dan pengalaman spiritual, saya tidak bisa tidur. Pertanyaan itu tidak mau meninggalkan saya, bahkan setelah saya menjawabnya.

Saya terjaga di pagi harinya dengan sebuah tanggapan. Saya katakan pada teman saya, “Saya punya jawaban lain. Pengalaman spiritual saya adalah kehidupan, dan praktik spiritual saya adalah untuk hidup, untuk mengada.” Tak ada dualitas.

Untuk informasi lebih lanjut tentang sekolah saya, silakan kunjungi situs web Beshara.


About this entry