Saya melihat seorang anak berjalan ke sekolah…

[English]

Di suatu pagi berkabut di Baturiti, Bali, saat mentari dengan malu-malu menampakkan dirinya untuk pertama kali di hari itu, seorang anak berjalan seorang diri ke sekolah.

Tatapanku lekat mengikuti tiap langkahnya. Saya tak tahu apa yang demikian menarik bagi saya tentang anak berseragam sekolah ini yang tengah berjalan ke sekolahnya.

Mungkin langkahnya yang demikian percaya diri dan antusias. Anak-anak memang salah satu contoh yang demikian indah dan nyata tentang bagaimana kita dapat berjalan atau berlaku dengan sepenuh hati dan jiwa, tanpa keraguan, tanpa kekhawatiran. Totalitas. Spontan. Antusias.

Mungkin langkahnya yang dengan semangat menuju teman-temannya di ujung jalan dan betapa antusiasnya mereka menyapa satu sama lain saat akhirnya mereka bertemu. Ah, persahabatan di masa kecil, ketika kita satu-satunya pertimbangan dalam memilih teman adalah “karena saya suka sama mereka.” Kita tidak pernah memilih. Persahabatan yang memilih kita. Dan kita menyambutnya dengan sepenuh hati, karena tak ada lagi cara lain untuk mengada.

Mungkin karena ia tengah berjalan ke sekolah. Kita jarang menyadari betapa beruntungnya kita dapat mengenyam masa pendidikan (dalam berbagai rupa). Hati saya kerap terenyuh setiap mendengar ada anak yang tak dapat melanjutkan pendidikannya.

Mungkin sesederhana karena ia tengah berjalan, berupaya menggunakan kakinya sendiri untuk tiba di sekolah. Ada sesuatu yang istimewa tentang berjalan kaki menuju suatu tempat bagi saya. Ada sesuatu yang istimewa tentang menggunakan hanya diri ini, tidak lebih, menggerakkan seluruh bagian diri, untuk mencapai tujuan.

Mungkin hanya karena ia adalah seorang anak. Simbol kemurnian yang universal. Jiwa yang penuh dengan suka cita, kasih sayang dan spontanitas. Kerinduan saya untuk kembali.

Mungkin. Saya tak tahu yang mana. Saya tidak yakin kenapa. Dan itu tak apa.

Kala itu pagi berkabut di Baturiti. Seorang anak berjalan seorang diri ke sekolah. Dan tatapan saya mengikuti setiap langkahnya. Saya tersenyum saat ia menyapa teman-temannya di ujung jalan. Seluruh pemandangan ini merupakan ekspresi yang demikian murni dari Kasih Sayang dan Suka Cita.

Terima kasih atas pemandangan yang demikian indah.

Gambar diambil dari sini.

Catatan: Saya tak dapat menemukan gambar anak sekolah dasar berjalan di pematang sawah untuk mencerminkan artikel ini. Seandainya saja kau ada bersama saya saat itu.


About this entry