Persahabatan dalam Tuhan—denganmu

[English]

Entah kenapa, sebenarnya lebih enak terdengar di telinga saya versi Bahasa Inggrisnya, “Friendship in God.” Menarik. Sebuah goresan didedikasikan untuk para sahabatku yang amat sangat kusayangi. Terima kasih. Banyak. Banyak.

“Persahabatan dalam Tuhan” adalah satu-satunya topik yang terus melintas di kepala saya dalam beberapa hari belakangan. Jadi mungkin saya perlu menuangkannya. Saya akan menceritakan pada dunia betapa indah dan membebaskan sebuah persahabatan itu. Aku akan berbagi dengan dunia betapa indahnya kau bagiku.

Kita sebenarnya belum terlalu lama kenal, alih-alih bersahabat. Sudah berapa lama? Benar-benar belum lama kalau dilihat dari jumlah tahunnya. Namun angka tak ‘kan mampu menggambarkan kedalaman persahabatan kita.

Aku bahkan tak ingat bagaimana kita bisa sedemikan dekat. Aku tak ingat kenapa kita memilih untuk begitu akrab. Kita memang memiliki kemiripan selera humor. Kita suka bermain kata dan bermain ekspresi wajah maupun bahasa tubuh. Mungkin kita bermulai dari situ. Kemudian berkembang menjadi kita kini.

Ah, mungkin bagaimana kita bermula bukanlah hal penting. Aku hanya senang karena kita menjadi kita yang sekarang. Karena aku tak pernah menyangka bahwa persahabatan dapat sedemikian mudah, menerima, dan membebaskan.

Aku belum pernah menerima seseorang dengan se-sepenuh hati, pun merasa diterima, layaknya aku dengan dirimu. Apapun yang kau lakukan, bagaimana pun kamu, aku lantas menerima, aku sekedar menyambut, dan menyayangimu. Apapun yang aku lakukan, bagaimana pun aku, kau pun lantas menerima, kau sekedar menyambut, dan menyayangiku.

Aku menjadi diriku sendiri. Kau menjadi dirimu sendiri. Menyenangkan. Kita tak ingin menjadi yang lain.

Ada kalanya suasana hatimu demikian kelabu. Kau tak menyapa siapa pun, tidak aku, tak pula orang lain. Orang lain mungkin terganggu, tapi aku tidak. Aku sekedar berpikir, “ah, kau khan memang begitu. Kau sedang ingin begitu. Kau cuma sedang tak ingin berbincang. Tak mengapa buatku.” Aku pun terus melangkah. Hingga saatnya kau merasa ingin berbincang kembali. Aku masih tetap ada di sana. Dan kita pun berbincang kembali. Layaknya episode senjang itu tak pernah terjadi.

Ada kalanya aku pun dalam suasana hati sekelabu itu (tentunya). Kadang, aku malah berlaku kasar padamu. Pernah aku seakan mendorongmu menjauh, aku bilang “sudah tak usah bicara padaku.” Aku berlalu. Kemudian aku menyadari apa yang kulakukan. Aku kembali mendekatimu. Aku bilang, aku minta maaf. Dan kau hanya menyapa, “Tak apa. Kau baik-baik saja kah?”

Aku benar-benar bisa berkata, bercerita apa saja padamu. Bahkan ketika aku merasa tak kau pedulikan, aku dapat menyampaikannya secara terbuka padamu. Dan kau, kau hanya mendengarkan dengan sabar. Kau tetap mendengarkanku, tanpa protes, tanpa mencari-cari alasan. Kemarahanku pun mencair. Percakapan kita berlanjut, seakan meneruskan perjalanan. Dan kita tetap berbincang tentang segala hal, seberapa pun remehnya.

Kalau aku menilik ke masa lalu, aku tak dapat mengingat kapan kau berlaku kasar padaku. Mungkin pernah, tapi aku tampak tak menyadarinya. Aku melihatnya sebagai, ya, kau menjadi dirimu sendiri dan bahwa kau tengah berproses. Dan aku sama sekali tak apa-apa dengan itu.

Tak ada tekanan. Kita tak pernah menuntut apa pun dari satu sama lain. Kita berbagi cerita yang ingin kita bagi. Kita simpan cerita yang ingin kita simpan untuk diri sendiri. Dan itu tak apa-apa.

Kerap kita berada di ruang yang sama tanpa menyapa satu sama lain. Aku sibuk dengan teman-temanku, dan kau dengan teman-temanmu. Tak mengapa. Bahkan, aku suka melihatmu dengan orang lain, mengada bersama mereka, berbagi cerita dengan mereka, tertawa dengan mereka. Kau demikian menghangatkan hati.

Lagipula, kita tahu kita tak akan tergantikan bagi satu sama lain. Tak ada orang yang dapat menggantikanmu bagiku. Tak ada yang dapat menggantikanku di matamu. Kita memang sebegitu spesialnya, seperti halnya setiap-tiap insan lain dalam hidup kita. Kita bersahabat, dan tak ada yang dapat mengubahnya, Insya Allah.

Toh, aku tahu bahwa kapan pun aku ingin ngobrol, atau ingin berjalan-jalan denganmu, aku dapat dengan mudahnya menghampirimu dan bilang, “Aku ingin berjalan-jalan deh denganmu. Yuk?”

Tak terbersit gengsi dalam diriku untuk itu, tak pula dalam dirimu.

Kita memiliki kegemaran yang berbeda. Kita tak sama dalam karakter. Namun aku selalu antusias terhadap kesukaanmu. Dan kau pun mendengar dengan penuh perhatian terhadap kegemaranku setiap kali aku menceritakannya padamu.

Tapi, kita punya satu kegemaran penting: Tuhan, Hidup, Spiritualitas, Keberadaan—beragam kata, satu makna tunggal. Kita senang berbincang tentang hal-hal yang kita anggap penting. Kita pun suka bercerita tentang hal-hal kecil. Kita gemar menilik dan memaknai berbagai hal dan kejadian yang kita alami.

Kita tahu, bahwa apapun yang terjadi dengan kita, hal itu tak ada hubungannya dengan orang lain. Semata-mata tentang kita. Apapun yang tengah bergejolak dalam diriku, pastilah itu tentangku, bukan tentang orang lain. Bahkan ketika kita sedang membincangkan orang lain, kita sadar bahwa kita semata membincangkan impresi kita terhadap mereka. Tak lain tak bukan, kita tengah membincangkan tentang diri kita sendiri. Kerap kita menertawakannya. Kita anggap ringan dan kita melihatnya sekedar sebagai suatu pengalaman. Gak masalah.

Semua ini adalah bagian dari perjalanan kita. Palung spiritual yang kita tapaki.

Kita menyadari hal ini. Seperti halnya kita tahu, bahwa kita—masing-masing—tengah menapaki suatu perjalanan menuju dan dalam Tuhan. Kita berupaya berpegang teguh pada-Nya, dan bukan kepada satu sama lain. Kita berjalan berdampingan, kita mungkin berpegangan tangan, namun masing-masing dari kita memiliki jalan sendiri-sendiri yang kita tapaki.

Kita merupakan teman dalam perjalanan kita. Kita adalah cermin yang kuat bagi satu sama lain. Namun pandangan kita tetap terarah pada Dia, sebisa kita, dan bukan pada yang lain, bahkan bukan pula pada satu sama lain.

Saya mengucap maaf (lagi) di hari itu. Dan kalimat yang meluncur darimu hanyalah. “Tak mengapa. Kau tak perlu merasa atau mengatakan maaf. Bukan itu. Aku hanya ingin tahu apa yang tengah terjadi.”

Pernyataan itu demikian kuat buatku. Persoalan yang kuhadapi menjadi personal dan non-personal pada saat yang sama. Ini bukan tentang kau atau aku atau kita, ini tentang Dia dan Dia sedang bercerita kepada kita tentang diri-Nya.

Benar, kita memang ingin tahu. Maksudku, benar-benar tahu. Kebenaran. Karena itulah kita di sini, berdampingan satu dengan yang lain. Dan aku benar mengakui, aku suka diriku ketika bersamamu. Aku menjadi diriku ketika bersamamu.

Persahabatan kita adalah persahabatan dalam Tuhan. Jenis persahabatan terbaik yang pernah ada. Demikian indah.

Kini kita sudah beberapa bulan tak berbincang satu sama lain. Demikianlah adanya kita sekarang. Demikianlah hidup saat ini. Setiap saat, aku dapat saja menyapamu kapan pun aku mau. Kau pun demikian.

Bagaimana juga, aku akan senantiasa meluangkan ruang di hatiku yang terdalam buatmu. Sebagai salah satu sahabatku tersayang dalam perjalanan spiritual tak ternilai yang kusebut kehidupan sehari-hari ini, sahabatku dalam Tuhan. Aku ingat seorang teman lain pernah berkata, “Jika ini persahabatan sejati, maka ia akan senantiasa menemukan jalannya.” Dan kita selalu bisa.

“Aku menyayangimu” tak dapat mencerminkan rasa ini. Mungkin “Terima kasih” adalah ucapan yang lebih pantas. Terima kasih, banyak. Alhamdulillah.

Gambar pertama dipinjam dari sini. Gambar kedua diambil di Bali.


About this entry