Artikel: Bagaimana kalau kita berhenti se-nano-detik dulu?

[English]
Pertama diterbitkan di The Jakarta Post Weekender, edisi September 2011


Pernahkah Anda merasa “harus” balik ke rumah dalam perjalanan Anda ke kantor hanya karena Anda ketinggalan ponsel Anda? Saya begitu. Saya rela menghabiskan 30 menit ekstra untuk balik ke rumah untuk mengambilnya, dan kemudian kembali mengulang perjalanan saya menerobos kemacetan Jakarta.

Ya, saya akui, saya adalah seorang penggemar peranti elektronik. Dan saya tidak menyadarinya hingga suatu hari saya tengah makan siang dengan seorang teman. Saya ingin menceritakan tentang teman saya yang lain, jadi saya mengakses Facebook dari piranti bergerak saya dan saya tunjukkan kepadanya foto-foto dari situ, kemudian saya me-YM teman saya yang lain yang belum datang, dan saya tweet foto-foto makanan siang kami untuk mengabarkan pada dunia.

Teman saya menatap saya terheran-heran. Saya tersipu, menyadari apa yang terlintas di benaknya. Maksudmu, ini tidak normal kah?

Reaksi teman saya itu benar-benar telah menarik saya kembali ke bumi. Apa yang sedang saya lakukan? Secara fisik,  saya tengah bersama teman saya untuk bersantap siang, namun saya demikian tenggelam dalam peranti saya sehingga saya tak menyadari apa yang sedang saya lakukan atau bahkan di mana saya berada.

Kita kerap tanpa sadar mengizinkan diri untuk terhanyut oleh peranti kita dan terdikte oleh ritmenya. Memang, peranti-peranti itu dapat demikian memabukkan dan ritme mereka pun demikian cepat. Baru-baru ini, saya menyadari betapa setiap kali saya menerima pesan di ponsel saya, saya merasa harus menanggapainya saat itu juga, dan dapat saya akui, saya mengharapkan orang lain untuk berlaku serupa. 10-15 menit sudah terlalu lama untuk sebuah tanggapan dalam percakapan melalui ponsel atau Internet, saat ketika kita mulai menekan “ping” (kadang berulang kali) menuntut tanggapan dari mitra bicara kita.

Bila kita menengok ke masa lampau dan mengingat masa-masa pra-teknologi Internet dan bergerak, kita menyadari betapa luar biasanya perubahan yang telah terjadi. Dulu kita senang-senang saja bila hanya menggunakan telepon rumah atau telepon umum koin. Kita bertukar kabar melalui surat, yang mungkin memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk mencapai ujung satunya. Kita dengan senang hati bepergian ke seberang kota untuk mengobrol langsung dengan kolega atau teman kita.

Bagaimana kita dulu bisa sedemikian sabar? Bagaimana hingga kita bisa kehilangan kesabaran kita? Pemikiran ini membuat saya bertanya-tanya apakah ada hal lain yang “hilang” dari diri saya di tengah derai penggunaan peranti dan teknologi ini.

Jangan salah paham. Saya masih mencintai dan menikmati peranti-peranti saya. Mereka memiliki tempatnya sendir dan tentunya punya manfaat yang cukup besar. Artikel ini tidak mungkin tercipta tanpa dukungan peranti-peranti saya. Bahkan, hal ini berlaku untuk hampir seluruh pekerjaan dan keputusan penting yang saya ambil dalam beberapa tahun belakangan. Belum lagi saat-saat mati gaya selama kemacetan lalu lintas atau di antara dua janji pertemuan—syukurlah untuk adanya Blackberry, iPhone, iPad, dan android.

Mungkin ini memang sudah zamannya. Zamannya teknologi bergerak, nirkabel dan multimedia. Peranti elektronik pada dasarnya, seperti halnya hampir semua hal dalam kehidupan yang senantiasa berubah ini, tak membahayakan, dan bahkan bermanfaat, menyenangkan dan amat menarik.

Terbenam di antara peranti elektronik

Pertanyaan menarik bagi saya adalah: bagaimana diri saya di tengah segala peranti ini?  Bagaimana saya menggunakannya? Di mana saya ketika sayang menggunakan peranti ini, atau ketika tidak menggunakannya? Dan yang terpenting mungkin, bagaimana sebaiknya saya mengada di tengah-tengah segala hal ini?

Tampaknya kita perlu sebuah “sistem” yang memungkinkan kita untuk terkadang berhenti sejenak, seperti wajah bingung teman saya itu, sehingga kita bisa melilhat kembali ke diri kita: Apa yang sebenarnya sedang saya lakukan? Apakah saya masih bersama teman saya di santap siang kita atau saya tengah berada di langit virtual?

Dunia bisnis sebenarnya sudah menyadari betapa peranti serta aplikasinya dapat menghambat produktivitas kerja karyawan. Para orangtua pun bisa melihat betapa anak-anak mereka dapat demikian tenggelam dalam peranti mutakhir, melupakan segala kegiatan lain yang mereka butuhkan untuk mengasah keterampilan sosial serta kegiatan fisik mereka. Baik dunia bisnis maupun para orangtua telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasinya.

Namun, agak pelik ketika hal ini menyangkut diri kita sendir. Maksudnya, agar kita mau benar-benar jujur menilik diri kita sendiri dan bagaimana kita dengan beragam peranti tersebut. Siapa yang memegang kendali, kita atau mereka?

Saat-saat berhenti sejenak yang saya singgung—yang dapat terjadi akibat wajah bingung seorang teman atau permintaan anak-anak kita agar kita bermain bersama mereka—dapat menjadi senjata berharga untuk mencek apakah kita masih baik-baik saja atau kita telah terhanyut oleh peranti kita.

Akan menarik bila kita sekali-sekali dapat melakukan eksperimen kecil untuk melihat bagaimana kita dengan atau tanpa peranti kita. Kita dapat mendisiplinkan diri untuk mencek peranti kita secara berkala dan di luar itu kita dapat fokus pada apa yang ada di depan kita. Kita bisa juga, misalnya, puasa peranti, yaitu mematikan peranti kita untuk suatu jangka waktu tertentu.

Beberapa teman saya baru-baru ini bertaruh seberapa lama mereka dapat hidup tanpa mencek Blackberry mereka. Tak terlalu lama, tampaknya. Tanpa mencap apakah hal tersebut positif atau negatif, tendensi ini mencerminkan kondisi kita saat ini.

Dan bila saya boleh tarik ini lebih lanjut, jika kita menerapkan prinsip bahwa apa yang terjadi di luar merupakan cerminan yang terjadi dalam diri kita, mungkinkan dunia gila-peranti ini merepresentasikan bagaimana kita sebagai individu? Apakah kita membiarkan aspek-aspek lain dalam kehidupan kita “menentukan” arah dan cara hidup kita sebagaimana kita membiarkan diri terhanyut oleh peranti-peranti tersebut? Apakah ke(tidak)sadaran atau penggunaan (tak) terkendali kita terhadap peranti kita merefleksikan ke(tidak)sadaran atau (tak) adanya kendali kita terhadap diri kita atua hidup secara umum? Kalau memang ya, apa kabarnya kita?

Saya tak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Biarlah masing-masing dari kita untuk menanggapinya sesuai dengan kondisi kita. Mari kita berhenti se-nano-detik untuk memikirkannya.


About this entry