Artikel: Para orangtua, dengarkanlah!

[English]
Pertama diterbitkan di The Jakarta Post Weekender, edisi Agustus 2011.

Orangtua sudah lama memahami pesan berikut: “Karena memang begitu” sudah tak berlaku lagi. Telah berlalu masa-masa ketika perkataan otoriter dari orangtua dapat menyudahi pembicaraan yang tak dikehendaki. Setiap “kenapa” yang keluar dari mulut sang anak kini perlu diikuti oleh penjelasan yang jelas dan kerap panjang-lebar, .. diikuti lagi, secara alamiah, oleh kembali pertanyaan “kenapa” dari anak dan kadang helaan napas sang orangtua.
Saya sudah mendengar justifikasi ini berjuta kali: “Anak-anak zaman sekarang sangat berbeda.” Mereka mempertanyakan segala sesuatu. Mereka tahu apa yang mereka inginkan dan mereka terus menuntutnya. Mereka terhampar oleh beragam hal melalui teman-teman, media dan Internet. Mereka tidak menghormati orangtuanya seperti kita dulu menghormati orangtua kita.

Apakah memang demikian? Seperti kebanyakan hal, jawabannya mungkin berada antara ya dan tidak.

Benar—kita tidak pernah memiliki berbagai perangkat elektronik tersebut. Dulu, kertas karton, mainan plastik, lilin, krayon, kertas dan apa pun yang kita temukan di halaman atau sekitar rumah kita jadikan mainan kita.

Dan benar—televisi, Internet dan konsumerisme tidaklah seagresif dan seintrusif mereka sekarang. Jaringan sosial kita hanya menyebar selebar pergosipan RT dan sekolah.

Juga benar—sistem pendidikan telah (secara perlahan) bergeser dan memungkinkan anak-anak untuk lebih kreatif dan asertif serta mendorong mereka untuk bertumbuh sesuai usia mereka. Banyak ibu dan ayah bekerja penuh waktu dan tidak bisa meluangkan waktu mereka dengan anak-anaknya layaknya generasi sebelumnya.

Ya, kondisi memang telah berubah. Namun tetap, di balik seluruh peralatan, pusat perbelanjaan, merek-merek, saya yakin, terdapat seorang anak. Sesosok manusia kecil yang indah dengan segala kebutuhan dan keinginan mendasar—jujur, kita pun mengenalnya keinginan dan kebutuhan serupa—untuk mengekspresikan diri, diterima sebagaimana adanya mereka dan dikasihi tanpa syarat.

Moda mungkin berbeda, cara pun berlainan, namun kebutuhan dan keinginan manusiawi mendasar tetaplah sama. Di luar segala argumen dan pemberontakan, rengekan untuk iPad atau Blackberry dan desakan terus-menerus untuk berlibur ke mancanegara, sebenarnya, dasar-dasarnya masih tetap sama. Tak ada yang dapat mengalahkan pelukan hangan, senyuman tulus, perhatian penuh, dan anggukan tanda restu dari orangtua. Hal-hal ini tetaplah berlaku, apapun yang terjadi.

Menariknya, perbedaan utama antara dulu dan sekarang adalah perubahan sosial yang menaksa para orangtua untuk menilik lebih dalam dan benar-benar mendengarkan anaknya serta menanggapinya sesuai kadar. Kita tak punya pilihan lain.

Sudah jelas bagi orangtua, bahwa tugas kita “hanyalah sekedar” memfasilitasi, menemani, menuntun anak-anak kita sehingga mereka dapat memilih dengan bijak, sesuai dengan nilai-nilai, kebutuhan, dan kondisi yang mereka miliki—bukan yang kita miliki.

Jadi, kita mendengarkan anak kita dan meluangkan waktu bagi mereka. Kita berdiskusi dengan mereka, tidak sekedar memberitahu, apa yang mereka butuhkan dan apa opsi yang mereka miliki. Kita pergi ke mana mereka pergi, kita baca apa yang mereka baca, kita mainkan apa yang mereka mainkan—sejauh yang mereka izinkan (teman sebaya kerap lebih disukai ketimbang orangtua). Kita posisikan diri sebagai kadang teman dan kadang orangtua, karena kita sadar bahwa inilah cara terbaik untuk mendekati mereka dan menjaga kedekatan dengan mereka.

Dengarlah dengar kini
Namun, jika kita benar-benar jujur terhadap diri kita, bukankah hal-hal ini juga yang kita, sebagai anak, yang kita idam-idamkan sejak dulu dari orangtua kita? Tidakkah kita secara diam-diam (atau secara terus-terang) berharap agar orangtua kita mendengar setiap permintaan yang kita ajukan selaku anak, seberapa pun malu-malunya kita ketika mengajukan hal ini? Bedanya dulu kita tidak seeksplisit anak-anak zaman sekarang. Kita dulu tidak tahu kalau kita bisa melakukannya.

Jadi mungkin kita dapat memahami kebutuhan anak-anak kita karena itu juga kebutuhan kita dulu—atau bahkan sekarang.

Ketika kita beranjak dewasa, kita lupa bahwa tidak apa-apa untuk menjadi unik dan jujur, bahwa ungkapan kemarahan atau kesedihan itu wajar, dan bahwa senyuman dapat terlontar secara spontan dari dalam hati, bukan sekedar basa-basi.

Keinginan dan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai tanpa syarat, untuk diterima, untuk mengekspresikan sejatinya diri yang ada dalam diri kita sekarang sama kuatnya dengan kala kita masih anak-anak. Hanya saja, biasanya, kita tidak menyadarinya.

Jadi alih-alih—atau mungkin, selain—kita mengasuh anak, kita sebenarnya pun mengasuh diri kita sendiri. Saat kita mengizinkan anak kita untuk bertumbuh menjadi dirinya sendiri, kita juga mengizinkan diri kita untuk tumbuh menjadi diri kita sendiri. Orangtua dan anak tumbuh berdampingan, menjalin kemitraan sejati yang ikatannya jauh lebih kuat ketimbang ikatan apa pun di dunia ini.

Memang benar adanya, dunia seakan telah terbalik. Anak-anaklah yang sekarang mengajarkan kaum dewasa bagaimana cara untuk mengada. Merekalah yang membuka mata kita terhadap cara-cara baru melayari hidup yang senantiasa berubah. Jujur saja—bahkan di tataran keseharian pun, merekalah yang kerap menunjukkan kita cara menggunakan peralatan mutakhir dan memberi tahu kita tentang tren terbaru.

Antusiasme, keingintahuan, spontanitas, komentar-komentar maupun tindakan di luar dugaan mereka amatlah menyenangkan untuk disimak dan kerap menular. Kita mengagumi aspek-aspek ini dari anak-anak kita dan kita berterima kasih pada mereka karena telah membawanya kembali ke hidup kita. Kita biarkan mereka menjadi diri mereka, karena sejatinya mereka adalah sesuatu yang tak terhingga nilainya.

Tetap saja, pertanyaannya adalah apakah realita keseharian kita memungkinkan kita untuk mengizinkan anak-anak untuk mengekspresikan diri mereka secara utuh—atau mungkin juga, kita untuk mengekspresikan diri kita secara utuh. Nanti, bila sang anak berkata, ”Ayah/Ibu, aku mau berhenti sekolah saja dan belajar menari. Aku cuma ingin menjadi penari terkenal”, bagaimana kita akan menjawabnya?

Tak semudah itu, bukan?


About this entry