Patah-patah kata

[English]

“Seperti apa kira-kira bila aku menulis buku?”
Ucapku di suatu makan siang denganmu
Satu dari pertemuan sesekali kita
Yang kadang terasa terlalu jarang buatku

“Lihat saja keluarnya nanti seperti apa..”
Ujarmu dengan ringan, namun entah kenapa selalu pas.
“Mungkin anekdot-anekdot kecil tanpa penjelasan seperti di blogmu yang satu lagi
“Atau mungkin merupa puisi, seperti yang kerap kau tulis di blog-mu kala dulu”
Lanjutmu dengan mata ramah setengah menerawang
Menyenangkan, menenangkan



Puisi, ah, aku hampir lupa
Pada gaya tulisanku yang satu itu
Yang sebenarnya kusuka, sangat
Ketika ucap sudah tak bisa menggubah
rentetan kata paripurna bernama kalimat
Saat tak ada lagi yang bisa terucap
kecuali patah-patah kata

Dan aku sadar betul,

Ketika guratan penaku sudah berupa patah-patah kata
Bisa jadi aku sudah tak kuasa merangkai kalimat sempurna
Sudah merasa tak perlu, dan memang tak mampu, berkata lebih
Ungkapan pun menjadi mentah tak terolah
Malah terasa jujur, dalam, dan senantiasa dari hati

Rangkaian patah kata itu sudah tersunting sendiri
Tanpa embel-embel kata-kata tak perlu
Embel-embel yang dirangkai sekedar untuk menguntai kata
Agar tampak cantik dan mudah dimengerti

Aku pun menyadari,

Ketika tarikan pensilku sudah berupa patah-patah kata
Aku selalu menggunakan “aku” dan bukan “saya”
Aku sudah tak lagi nyaman menggunakan kata orang ketiga
Yang hanya akan mengaburkan kedalaman makna
Jadi, kugunakan kata orang kedua, “kau”, “kamu”, “-mu”, “dirimu”

Karena aku menulis untukmu
Ah, bukan, tepatnya aku menulis untuk diriku sendiri
Dengan kau sebagai cermin sejatiku
Yang selalu mengingatkanku akan keindahan
Terpancar mewah dari dirimu, dari diriku

Agar kau benar merasa
bahwa aku sedang jujur padamu
Berbicara dari hatiku, dan semoga sampai ke hatimu pula
Siapapun “kau” yang kumaksud saat itu
Mungkin hanya kau yang tahu, atau bahkan kau pun belum tentu menyadari

Patah-patah kata itu
Kini kucoba untuk kuungkap kembali
Sebagai upayaku untuk kembali jujur
Padamu, namun, jujur, utamanya pada diri

Aku ingin menjadi diriku apa adanya
Tanpa mempedulikan apa yang kaupikir tentangku
Dan bahkan mengabaikan apa yang kupikir tentang diriku sendiri

Betapa indah bila kita bisa sesederhana sekedar mengada
Jujur, dalam, dan senantiasa dari hati

Terima kasih. Sudah mengingatkanku. Akan aku.

Gambar rantai putus: http://bit.ly/siMjJz
Gambar tangan menulis: http://bit.ly/tXy8AR


About this entry