Malaikat-malaikat riang di Taman

Pertama diunggah di blog Taman Bacaan Pelangi.

Seeing is believing
Reading is bliss
And sharing is even more so

“Melihat, baru bisa percaya.” Klise, saya tahu, tapi itulah ungkapan yang menurut saya paling pantas untuk mengekspresikan apa yang saya rasakan ketika saya mengunjungi Taman Bacaan Pelangi di Flores baru-baru ini. Sebenarnya saya sudah mendengar tentang Taman ini sejak lama. Namun, saya tidak mungkin bisa membayangkan pemandangan, perasaan dan dampak yang dimilikinya sampai saya mengunjungi taman-taman itu dan melihat anak-anak tersebut dengan mata kepala saya sendiri.

Saat itu, Sabtu pagi, hujan deras. Kami menepi dan berhenti setelah berjalan sejam dari Labuan Bajo. Kami tiba di Kampung Roe, yang menjadi rumah bagi salah satu dari 23 Taman Bacaan Pelangi (hingga hari ini).

Kami turun dari mobil dan bergegas menuju teras dari sebuah rumah sederhana berwarna merah jambu. Saya tidak terlalu menyadari pemandangan yang terhampar di hadapan saya sampai saya benar-benar menginjakkan kaki saya di teras itu: Lebih dari enam puluh anak dengan tekun membaca buku bacaan di hari hujan itu.

Maksud saya, wow. Mereka khan adalah anak-anak yang bahkan buku sekolah wajib pun merupakan sebuah kemewahan dan langka, alih-alih buku cerita anak-anak. Meraka khan adalah anak-anak yang harus pergi ke Labuan Bajo jika mereka mau melanjutkan pendidikan ke bangku SMP. Mereka adalah anak-anak yang mungkin belum pernah melangkahkan kaki ke luar kampungnya ataupun pulaunya dan hampir tak pernah terpapar ke dunia virtual Internet.

Namun–ya, tentu ada NAMUN dengan garis bawah–yang saya lihat adalah kebahagiaan, semangat, dan kehausan yang sangat menyegarkan untuk belajar (lebih banyak). Saya hanya bisa terperangah dan merasa betapa beruntung dan ‘bukan apa-apa’ dibanding kejujuran, keingintahuan, keterbukaan dan keberanian berekspresi mereka .

Saya berbagi beberapa pengalaman perjalanan saya dan menunjukkan beberapa foto mnggunakan komputer saya. Mata mereka lekat selekat-lekatnya ke layar monitor. Mereka dengan spontan berkomentar tentang macam-macam aspek cerita, bertanya, dan mulai menggumamkan apa yang saya ucapkan–benar-benar membawa gambar-gambar dan kata-kata yang ditawarkan ke hati mereka.

Setiap kali saya selesai menceritakan kisah saya, mereka dengan semangat mengatakan “Lagi! Lagi!” Bahkan ketika mobil kami beranjak pergi, anak-anak itu berteriak, tertawa-tawa, dan mengejar mobil kami. Tawa, kebahagiaan, dan spontanitas mereka demikian menular.

Ya ampyun, coba kalian ada bersama dengan saya. Karena hanya dengan demikian kalian merasa apa yang saya rasa; melihat apa yang saya lihat.

Kami lantas mengunjungi tiga TB Pelangi lagi dalam beberapa hari ke depan: Kampung Melo, Kampung Rinca, dan Kampung Papagarang—dan melintas sekilas di dua lainnya: di Pulau Kukusan dan Labuan Bajo. Setiap tempat sama luar biasanya dengan yang lain.

Terbayang di benak saya; kepala saya tidak bisa tidak mulai menghitung seberapa besar kelipatan dampak betapa bermanfaatnya, berharganya hal ini bagi para anak tersebut. Saya memiliki pemahaman dan rasa hormat baru bagi inisiatif ini. Dan untuk mencoba melihat apa yang TB Pelangi tawarkan kepada mereka: Layaknya membuka cakrawala ‘pengalaman’ baru, dalam melihat dunia, yang mungkin sebelumnya tak terbayangkan.

Tapi lebih dari itu, saya sangatlah berterima kasih pada anak-anak tersebut. Kita kerap berpikir kita telah membantu mereka, tapi yang terjadi adalah sebaliknya; atau mungkin sebenarnya ini berlaku dua arah, seperti selalu: Mereka juga mengajarkan kita, mengajarkan saya, tentang hidup dengan hati dan semangat luar biasa, tentang kecintaan pada buku, tentang haus akan lebih, dan tentang spontanitas.

Saya senang sekali karena saya telah bilang “iya” kepada Nila ketika ia mengundang saya untuk mengunjungi Taman Bacaan Pelangi. Saya sangat senang kita tuh berteman, Nils 😉

Saya benar-benar percaya bahwa kunjungan saya ke Taman Bacaa Pelangi telah membuat kunjungan saya ke Flores menjadi worthwhile–berharga; atau minimal, untuk saya pribadi, kunjungan ini membuat nilai perjalanan saya berlipat ganda.

Saya sarankan, coba deh lakukan hal yang sama. Jadi kalian bisa melihat apa yang saya lihat, merasakan apa yang saya rasakan, dan turut terperangah.

Seeing is truly believing
Reading is such a bliss
And sharing is even much more so

PS: Alam Flores pun sebenarnya luar biasa. Tapi mari disimpan dulu cerita itu untuk lain waktu.


About this entry